Cara menghitung persentase keuntungan dan kerugian: markup, margin, dan kenaikan harga

Persentase keuntungan = (harga jual − modal) ÷ modal × 100, sama dengan persentase kenaikan dari modal ke harga jual; ini disebut markup. Bila dibagi harga jual, hasilnya margin. Modal Rp80.000 yang dijual Rp100.000 untung 25% dari modal dan 20% dari harga jual.

Halaman ini menjawab berapa persen untung atau rugi dari sebuah penjualan, dan persen itu dibagi apa. Dibagi modal, hasilnya markup — sama dengan persentase kenaikan dari harga beli ke harga jual. Dibagi harga jual, hasilnya margin. Kalkulator di atas menampilkan keduanya berdampingan, menghitung harga jual dari target margin, dan berjalan di browser tanpa login.

Beli Rp80.000, jual Rp100.00025% / 20%markup dari modal / margin dari harga jual
Margin 20% dari modal Rp80.000Rp100.00080.000 ÷ 0,8, bukan 80.000 × 1,2
Markup 100%margin 50%margin = markup ÷ (100 + markup)
Rugi 25% dari modalbutuh naik 33,33%untuk kembali ke modal

Poin utama

  • Persentase keuntungan yang umum diajarkan adalah untung ÷ modal × 100. Itu markup, dan sama persis dengan persentase kenaikan dari modal ke harga jual.
  • Margin membagi untung dengan harga jual. Untuk untung yang sama, margin selalu lebih kecil daripada markup.
  • Harga jual untuk target margin adalah modal ÷ (1 − margin). Menambahkan persen margin ke modal menghasilkan margin yang lebih rendah dari target.
  • Persentase rugi dihitung dari modal. Rugi 25% butuh kenaikan 33,33% dari harga jual yang rugi itu untuk kembali ke modal.
  • Margin tidak pernah mencapai 100%, sedangkan markup bisa berapa pun.
Data per 14 September 2026

Rumus cara menghitung persentase keuntungan

Keuntungan dalam rupiah selalu satu angka: harga jual dikurangi modal. Persentasenya punya dua versi, tergantung angka mana yang menjadi pembagi.

Untung = harga jual − modal
Persentase keuntungan dari modal (markup) = untung ÷ modal × 100
Persentase keuntungan dari harga jual (margin) = untung ÷ harga jual × 100
Harga jual dari target margin = modal ÷ (1 − margin)

Rumus yang pertama muncul di buku pelajaran dan di sebagian besar artikel "cara menghitung persentase keuntungan". Secara aritmetika, ia sama dengan rumus persentase kenaikan: dari modal sebagai angka awal ke harga jual sebagai angka akhir. Karena itu harga yang naik dari Rp350.000 ke Rp455.000 disebut naik 30%, dan pedagang yang membeli di Rp350.000 lalu menjual di Rp455.000 disebut untung 30%.

Rumus kedua dipakai di laporan laba rugi dan di dunia ritel. Margin laba kotor perusahaan, misalnya, adalah laba kotor dibagi pendapatan, bukan dibagi harga pokok. Saat pemasok, pembeli, dan pemilik usaha berbicara tentang "untung 30%", pertanyaan pertama yang perlu diajukan adalah: 30% dari apa?

Markup dan margin: satu untung, dua persen

Karena pembaginya berbeda, untung yang sama menghasilkan dua angka persen yang berbeda, dan jaraknya membesar seiring besarnya untung. Pada untung kecil keduanya hampir sama: markup 10% setara margin 9,09%. Pada untung besar, keduanya jauh berbeda: markup 100% setara margin 50%, dan markup 200% setara margin 66,67%.

Markup (untung dibagi modal) dan margin (untung dibagi harga jual) untuk untung yang sama. Kolom harga memakai modal contoh Rp80.000.
MarkupMarginHarga jual dari modal Rp80.000Untung per unit
10%9,09%Rp88.000Rp8.000
20%16,67%Rp96.000Rp16.000
25%20%Rp100.000Rp20.000
30%23,08%Rp104.000Rp24.000
40%28,57%Rp112.000Rp32.000
50%33,33%Rp120.000Rp40.000
60%37,5%Rp128.000Rp48.000
75%42,86%Rp140.000Rp60.000
100%50%Rp160.000Rp80.000
150%60%Rp200.000Rp120.000
200%66,67%Rp240.000Rp160.000
Margin tidak pernah mencapai 100 persen, markup bisa berapa sajaMargin untuk markup xGaris markup = margin0%20%40%60%80%100%0%50%100%150%200%250%300%markupmarginmarkup 25% = margin 20%markup 100% = margin 50%
Margin = markup ÷ (100 + markup) × 100. Garis putus-putus menunjukkan anggapan keliru bahwa keduanya sama; semakin besar markup, semakin jauh jaraknya.

Hubungan keduanya bisa diturunkan dari definisinya. Bila markup m berarti harga jual = modal × (1 + m), maka untung = modal × m dan margin = modal × m ÷ (modal × (1 + m)) = m ÷ (1 + m). Sebaliknya, markup = margin ÷ (1 − margin). Tab "Markup ↔ margin" di kalkulator mengerjakan konversi ini untuk angka apa pun.

Contoh menghitung persentase keuntungan dan kerugian

Contoh 1 — untung dari penjualan sepatu. Sepatu dibeli dari pemasok Rp350.000 per pasang dan dijual Rp455.000. Terjual 40 pasang.

  1. Untung per pasang: Rp455.000 − Rp350.000 = Rp105.000.
  2. Persentase keuntungan dari modal: 105.000 ÷ 350.000 × 100 = 30%.
  3. Margin dari harga jual: 105.000 ÷ 455.000 × 100 = 23,08%.
  4. Untung kotor 40 pasang: Rp105.000 × 40 = Rp4.200.000. Persennya tidak berubah karena jumlah unit, selama harga beli dan jualnya sama.

Contoh 2 — rugi saat menjual kembali. Ponsel dibeli Rp2.400.000 dan dijual kembali Rp1.800.000.

  1. Rugi: Rp1.800.000 − Rp2.400.000 = −Rp600.000.
  2. Persentase kerugian dari modal: 600.000 ÷ 2.400.000 × 100 = 25%.
  3. Dari harga jual, rugi itu 33,33% — angka yang jarang dipakai untuk kerugian, karena yang ingin diketahui adalah seberapa banyak modal yang hilang.
  4. Untuk kembali ke Rp2.400.000 dari Rp1.800.000, harga harus naik 600.000 ÷ 1.800.000 = 33,33%, bukan 25%.

Cara menentukan harga jual dari target margin

Kesalahan termahal dalam menetapkan harga adalah menambahkan persen target margin langsung ke modal. Pemilik warung yang ingin margin 30% dari barang bermodal Rp56.000 lalu menjualnya Rp56.000 × 1,3 = Rp72.800 hanya mendapat margin 23,08%. Harga yang benar membagi modal dengan bagian yang tersisa untuk modal di harga jual.

Contoh 3 — harga untuk margin 30%. Modal Rp56.000 per unit.

  1. Pada margin 30%, modal adalah 70% dari harga jual.
  2. Harga jual: Rp56.000 ÷ 0,7 = Rp80.000.
  3. Periksa: untung Rp24.000 ÷ Rp80.000 = 30%. Cocok.
  4. Markup setaranya: 24.000 ÷ 56.000 = 42,86%. Pada 100 unit terjual, selisih dengan harga Rp72.800 adalah Rp720.000 untung yang tidak tertagih.
Harga jual yang dibutuhkan untuk target margin, dibanding salah kaprah menambahkan persen yang sama ke modal. Modal contoh Rp80.000.
Target marginMarkup yang setaraHarga jual yang benarHarga bila modal + persenMargin sebenarnya bila modal + persen
10%11,11%Rp88.889Rp88.0009,09%
20%25%Rp100.000Rp96.00016,67%
25%33,33%Rp106.667Rp100.00020%
30%42,86%Rp114.286Rp104.00023,08%
40%66,67%Rp133.333Rp112.00028,57%
50%100%Rp160.000Rp120.00033,33%
60%150%Rp200.000Rp128.00037,5%
75%300%Rp320.000Rp140.00042,86%

Modal di sini harus sudah memuat semua biaya per unit yang ingin ditutup: harga beli, ongkos kirim, kemasan, dan bagian biaya tetap bila ada. Untuk usaha yang memproduksi sendiri, menghitung harga pokok per unit itu adalah pekerjaan terpisah yang dijelaskan di cara menghitung harga jual UMKM. Bila harga itu kemudian dipasang dengan harga coret dan diskon, periksa bahwa harga setelah diskon masih di atas modal dengan kalkulator diskon.

Persentase kerugian dan kenaikan yang dibutuhkan untuk balik modal

Kerugian dinyatakan dengan pembagi yang sama: modal. Menjual rugi 10% berarti menerima 90% dari modal. Yang sering terlupa adalah sisi pemulihannya. Dari harga yang sudah turun, kenaikan persen yang dibutuhkan untuk kembali ke modal selalu lebih besar daripada persen turunnya, karena kenaikan itu dihitung dari angka yang lebih kecil. Rugi 10% butuh naik 11,11%, rugi 25% butuh naik 33,33%, dan rugi 50% butuh naik 100%.

Hal yang sama berlaku untuk investasi. Portofolio saham yang turun 20% harus naik 25% untuk kembali, dan itu sebelum biaya transaksi dan pajak. Kalkulator saham menghitung harga jual impas yang sudah memuat fee broker dan PPh final 0,1% atas penjualan. Grafik kenaikan untuk pulih dari setiap persen penurunan ada di kalkulator persen.

Untung dan rugi untuk barang dengan modal Rp80.000 pada beberapa harga jual. Rugi ditulis negatif; persentase kerugian dihitung dari modal.
Harga jualUntung/rugiPersen dari modal (markup)Persen dari harga jual (margin)Perubahan dari modal
Rp60.000−Rp20.000−25%−33,33%turun 25%
Rp72.000−Rp8.000−10%−11,11%turun 10%
Rp80.000Rp00%0%tetap
Rp88.000Rp8.00010%9,09%naik 10%
Rp100.000Rp20.00025%20%naik 25%
Rp120.000Rp40.00050%33,33%naik 50%
Rp160.000Rp80.000100%50%naik 100%

Kenaikan dan penurunan harga beli: dampaknya ke margin

Persentase kenaikan juga dipakai untuk membaca perubahan harga dari pemasok. Bila harga beli naik dari Rp14.000 menjadi Rp15.500, kenaikannya 1.500 ÷ 14.000 = 10,71%. Pertanyaan pentingnya bagi penjual adalah apa yang terjadi pada margin bila harga jual tidak ikut naik.

Contoh 4 — harga pemasok naik, harga jual tetap. Barang dijual Rp20.000. Harga beli naik dari Rp14.000 ke Rp15.500.

  1. Margin sebelum kenaikan: (20.000 − 14.000) ÷ 20.000 = 30%.
  2. Margin sesudah kenaikan: (20.000 − 15.500) ÷ 20.000 = 22,5%, turun 7,5 poin persentase.
  3. Untung per unit turun dari Rp6.000 ke Rp4.500, atau turun 25%, walaupun harga beli hanya naik 10,71%.
  4. Untuk kembali ke margin 30%: Rp15.500 ÷ 0,7 = Rp22.142,86, atau naik 10,71% dari Rp20.000 — sama dengan kenaikan harga beli, karena margin tetap berarti harga jual dan modal naik dengan persen yang sama.

Contoh ini memperlihatkan kenapa perubahan margin sebaiknya dilaporkan dalam poin persentase. "Margin turun 7,5 poin" jelas; "margin turun 25%" benar secara relatif tetapi mudah disangka marginnya tinggal 5%. Kenaikan biaya lain, seperti upah pekerja, bekerja dengan logika yang sama; perubahan beban gaji dari potongan dan iuran bisa dihitung di kalkulator gaji bersih, dan persen kenaikan harga umum menurut BPS ada di inflasi Indonesia.

Persentase keuntungan setelah memberi diskon

Diskon dipotong dari harga jual, tetapi seluruh potongannya keluar dari untung, karena modal tidak ikut turun. Akibatnya diskon yang tampak kecil bisa menghapus hampir seluruh keuntungan.

Contoh 5 — markup 30%, lalu diskon 20%. Sepatu bermodal Rp350.000 dipasang Rp455.000 (markup 30%), lalu dijual dengan diskon 20%.

  1. Harga setelah diskon: Rp455.000 × 0,8 = Rp364.000.
  2. Untung: Rp364.000 − Rp350.000 = Rp14.000.
  3. Persentase keuntungan dari modal tinggal 4%, dan margin 3,85%. Diskon 20% memakan 86,67% dari untung Rp105.000 semula.
  4. Diskon terbesar yang masih impas adalah markup ÷ (100 + markup) = 30 ÷ 130 = 23,08%, sama dengan marginnya. Diskon lebih dari itu berarti menjual rugi.
  5. Untuk tetap menerima Rp455.000 setelah diskon 20%, harga yang dipasang harus Rp455.000 ÷ 0,8 = Rp568.750.

Aturan praktisnya: diskon maksimum tanpa rugi sama dengan margin, bukan markup. Penjual yang mengira ruang diskonnya 30% karena markupnya 30% akan rugi pada diskon 25%. Diskon bertingkat, voucher, dan PPN setelah diskon dihitung di kalkulator diskon.

Persentase keuntungan dibagi modal atau harga jual?

Persentase keuntungan dibagi apa?+Untung = harga jual − modalRp100.000 − Rp80.000 = Rp20.000negatif berarti rugi=Pertanyaannya: naik berapa persen dari modal?markup 25%untung ÷ modal × 100; sama dengan persentasekenaikan dari modal ke harga jual=Pertanyaannya: berapa persen dari penjualan?margin 20%untung ÷ harga jual × 100; yang dilaporkanlaporan laba rugi sebagai marginMenetapkan harga dari target marginRp80.000 ÷ (1 − 20%) = Rp100.000bukan Rp80.000 × 1,2 = Rp96.000, yangmarginnya hanya 16,67%
Satu untung Rp20.000 bisa ditulis 25% atau 20% tergantung pembaginya. Menyebut persennya tanpa pembagi adalah sumber salah paham paling umum antara penjual dan pemasok.

Pakai markup, yaitu untung dibagi modal, bila pertanyaannya tentang menaikkan harga dari biaya: menetapkan harga jual dari harga beli, membandingkan harga beli dan jual satu barang, atau menjawab soal sekolah tentang persentase untung. Pakai margin, yaitu untung dibagi harga jual, bila pertanyaannya tentang bagian dari penjualan: berapa rupiah untung dari setiap Rp100 omzet, target laba dalam laporan, atau perbandingan dengan margin pesaing yang dilaporkan dari pendapatan. Dalam dokumen apa pun, sebutkan pembaginya.

Yang tidak dihitung kalkulator ini

Kalkulator ini menghitung persen untung per unit dari dua harga. Ia tidak menghitung harga pokok produksi, biaya tetap, titik impas, atau pajak atas penghasilan usaha. PPN yang dipungut dari pembeli bukan bagian dari harga jual untuk menghitung untung, jadi isi harga jual sebelum PPN; cara membongkarnya ada di kalkulator diskon. Untuk iuran dan pajak yang dihitung dari upah, lihat iuran BPJS Ketenagakerjaan dan tarif TER PPh 21. Semua angka yang kamu ketik tetap di perangkatmu dan tidak dikirim ke server.

Sumber dan dasar hukum

Pertanyaan yang sering ditanya

Bagaimana cara menghitung persentase keuntungan?
Kurangi harga jual dengan modal untuk mendapat untung, bagi untung dengan modal, lalu kalikan 100. Sepatu yang dibeli Rp350.000 dan dijual Rp455.000 untung Rp105.000, atau 30% dari modal. Bila yang ditanyakan bagian untung dari penjualan, bagi dengan harga jual sehingga hasilnya margin 23,08%. Sebutkan pembaginya supaya tidak disalahpahami.
Apa rumus persentase kerugian?
Persentase kerugian sama dengan selisih modal dan harga jual dibagi modal, dikali 100. Barang yang dibeli Rp2.400.000 dan dijual Rp1.800.000 rugi Rp600.000, atau 25% dari modal. Untuk kembali ke harga modal dari harga jual yang rugi itu, dibutuhkan kenaikan 33,33%, karena kenaikan dihitung dari angka yang lebih kecil.
Apakah markup sama dengan margin?
Tidak. Markup membagi untung dengan modal, margin membagi untung yang sama dengan harga jual. Barang bermodal Rp80.000 yang dijual Rp100.000 punya markup 25% dan margin 20%. Hubungannya: margin sama dengan markup dibagi seratus ditambah markup, dikali 100. Markup 100% setara margin 50%, dan margin tidak pernah mencapai 100%.
Bagaimana menentukan harga jual agar untung 30% dari harga jual?
Bagi modal dengan 0,7, yaitu satu dikurangi 30%. Modal Rp56.000 menghasilkan harga jual Rp80.000 dengan untung Rp24.000, tepat 30% dari harga jual. Mengalikan modal dengan 1,3 memberi Rp72.800 yang marginnya hanya 23,08%. Bila yang dimaksud untung 30% dari modal, barulah modal dikali 1,3 adalah jawaban yang benar.
Kenapa persentase keuntungan sama dengan persentase kenaikan harga?
Karena rumusnya identik. Persentase kenaikan adalah selisih angka akhir dan angka awal dibagi angka awal. Bila angka awalnya modal dan angka akhirnya harga jual, selisihnya adalah untung, dan pembaginya modal. Jadi harga yang naik 30% dari harga beli sama dengan untung 30% dari modal. Margin tidak punya padanan kenaikan seperti ini.
Apakah untung dihitung dari harga termasuk PPN?
Sebaiknya tidak. Menurut UU 42/2009 Pasal 1 angka 18, Harga Jual tidak termasuk PPN yang dipungut, dan PPN itu disetorkan, bukan menjadi pendapatan penjual. Untuk barang tidak mewah, bagi harga termasuk PPN dengan 1,11 lebih dulu, lalu hitung untung dari hasilnya. Kewajiban PPN usahamu sendiri bergantung pada statusnya sebagai pengusaha kena pajak.

Ditinjau oleh Deepak Middha

Chartered Accountant dan pemegang Series 65, dengan 18 tahun di industri hedge fund pada akuntansi dana, administrasi investasi, dan pelaporan. Rumus markup, margin, dan persentase perubahan serta contoh angkanya diperiksa terhadap aritmetikanya dan terhadap cara laporan keuangan menyajikan margin.

Profil peninjau → · Cara kami memeriksa angka →

Halaman terkait