Kalkulator diskon ini menjawab berapa yang benar-benar dibayar ketika diskon ditumpuk, ketika ada voucher potongan rupiah, dan ketika harga masih harus ditambah PPN. Ia juga bekerja mundur: dari harga diskon ke harga asli, dari dua harga ke persen diskon yang sebenarnya, dan dari harga termasuk PPN ke harga sebelum pajak. Hitungannya berjalan di browser tanpa login, dan setiap langkah bisa disalin ke kalkulator HP atau Excel.
Poin utama
- Diskon bertingkat dikalikan: diskon kedua dihitung dari harga yang sudah dipotong, jadi 30% + 20% = 44%, dan 50% + 50% = 75%, bukan gratis.
- Voucher rupiah dan diskon persen tidak bisa ditukar urutannya. Diskon persen yang dihitung lebih dulu, baru voucher, selalu lebih hemat.
- PPN barang tidak mewah adalah 12% dari DPP 11/12, sama dengan 11% dari harga jual setelah potongan yang dicantumkan di Faktur Pajak.
- Diskon persen sebelum atau sesudah PPN memberi total yang sama; yang mengubah total adalah potongan yang tidak mengurangi DPP.
- Harga sebelum PPN dicari dengan membagi, bukan mengurangi 11%: Rp1.665.000 ÷ 1,11 = Rp1.500.000.
Cara menghitung diskon persen dari harga barang
Diskon adalah X% dari harga, jadi rumusnya sama dengan persen biasa. Yang membuatnya sering salah hitung adalah apa yang terjadi sesudahnya: apakah potongannya dikurangkan dari harga asli atau dari harga yang sudah dipotong, dan apakah pajaknya dihitung sebelum atau sesudah potongan. Rumus dasarnya:
Harga bayar = harga × (1 − diskon ÷ 100)
Diskon bertingkat: bayar = harga × (1 − d₁) × (1 − d₂) × …
Diskon total = 1 − (1 − d₁)(1 − d₂)…
Bentuk kedua, harga × (1 − diskon), lebih cepat daripada menghitung potongannya lalu mengurangkan. Diskon 25% berarti membayar 75% dari harga, sehingga Rp250.000 × 0,75 = Rp187.500 dalam satu langkah. Bentuk ini juga yang membuat diskon bertingkat mudah: cukup kalikan faktor-faktornya.
Di tab pertama kalkulator, isi harga dan sampai tiga lapis diskon. Kolom yang dikosongkan diabaikan. Hasilnya menampilkan harga bayar, hemat dalam rupiah, diskon total yang sebenarnya, dan selisihnya bila kamu menjumlahkan persennya.
Diskon bertingkat: kenapa diskon 30% ditambah 20% bukan 50%
"Diskon 30% + 20%" di papan promosi berarti diskon 20% diberikan setelah diskon 30%. Karena dasarnya sudah mengecil, 20% itu bernilai lebih sedikit daripada 20% dari harga awal.
Contoh 1 — diskon 30% lalu tambahan 20%. Sepatu seharga Rp500.000.
- Diskon pertama: Rp500.000 × 30% = Rp150.000, harga menjadi Rp350.000.
- Diskon tambahan dihitung dari Rp350.000: × 20% = Rp70.000, harga menjadi Rp280.000.
- Hemat total Rp220.000 dari Rp500.000 = 44%.
- Dengan faktor: Rp500.000 × 0,7 × 0,8 = Rp500.000 × 0,56 = Rp280.000. Kalau persennya dijumlahkan, kamu mengira membayar Rp250.000, selisih Rp30.000.
Urutan diskon persen tidak berpengaruh: 20% lalu 30% juga Rp280.000, karena perkalian bisa ditukar urutannya. Tabel berikut menunjukkan seberapa jauh jumlah persen meleset dari diskon yang sebenarnya.
| Diskon | Kalau dijumlahkan | Diskon sebenarnya | Selisih | Bayar dari Rp500.000 | Bayar bila dijumlahkan |
|---|---|---|---|---|---|
| 10% + 10% | 20% | 19% | 1 poin | Rp405.000 | Rp400.000 |
| 20% + 10% | 30% | 28% | 2 poin | Rp360.000 | Rp350.000 |
| 30% + 20% | 50% | 44% | 6 poin | Rp280.000 | Rp250.000 |
| 40% + 10% | 50% | 46% | 4 poin | Rp270.000 | Rp250.000 |
| 50% + 20% | 70% | 60% | 10 poin | Rp200.000 | Rp150.000 |
| 50% + 50% | 100% | 75% | 25 poin | Rp125.000 | Rp0 |
| 70% + 30% | 100% | 79% | 21 poin | Rp105.000 | Rp0 |
| 20% + 20% + 10% | 50% | 42,4% | 7,6 poin | Rp288.000 | Rp250.000 |
Dua pola mudah diingat dari grafik itu. Pertama, selisih antara jumlah dan kenyataan adalah hasil kali kedua diskon: 30% × 20% = 6 poin. Kedua, diskon bertingkat tidak pernah mencapai 100% selama tidak ada lapisan yang 100%. "Diskon 50% + 50%" adalah 75%, dan "70% + 30%" adalah 79%.
Voucher rupiah dan diskon persen: mana yang dipotong dulu
Voucher belanja daring sering berbentuk potongan rupiah, sedangkan promo toko berbentuk persen. Berbeda dengan dua diskon persen, urutan keduanya mengubah harga bayar.
Contoh 2 — diskon 20% dan voucher Rp50.000. Barang seharga Rp200.000.
- Diskon persen dulu: Rp200.000 × 0,8 = Rp160.000, lalu voucher: Rp160.000 − Rp50.000 = Rp110.000.
- Voucher dulu: Rp200.000 − Rp50.000 = Rp150.000, lalu diskon: Rp150.000 × 0,8 = Rp120.000.
- Selisih Rp10.000, yaitu 20% dari voucher Rp50.000. Saat voucher dipotong lebih dulu, diskon persen ikut "memotong" voucher itu.
- Diskon total: 45% bila persen dulu, 40% bila voucher dulu.
Urutan yang berlaku ditentukan syarat promo penjualnya, bukan pilihan pembeli. Kalkulator menampilkan kedua urutan supaya kamu tahu berapa yang dipertaruhkan. Voucher yang lebih besar daripada harga setelah diskon hanya terpakai sampai harga menjadi nol; sisanya dilaporkan tidak terpakai.
Cara menghitung harga asli sebelum diskon dan persen diskon dari dua harga
Dua pertanyaan mundur ini paling sering dikerjakan dengan cara yang keliru. Harga asli dicari dengan membagi harga bayar dengan bagian yang dibayar, bukan dengan menambahkan kembali persen diskonnya.
Diskon sebenarnya = (harga asli − harga bayar) ÷ harga asli × 100
Contoh 3 — memeriksa label harga coret. Label menulis harga coret Rp899.000, harga promo Rp399.000, dan "diskon 60%".
- Potongan: Rp899.000 − Rp399.000 = Rp500.000.
- Diskon sebenarnya: 500.000 ÷ 899.000 × 100 = 55,62%.
- Diskon 60% dari Rp899.000 seharusnya menghasilkan Rp899.000 × 0,4 = Rp359.600.
- Label itu melebihkan diskon 4,38 poin persentase. Untuk harga promo Rp399.000, harga coret yang cocok dengan "diskon 60%" adalah Rp399.000 ÷ 0,4 = Rp997.500.
Pedagang yang ingin memasang harga coret dari harga jual yang sudah ditentukan memakai rumus harga asli yang sama. Untuk menentukan harga jual itu sendiri dari modal dan target margin, pakai kalkulator harga jual UMKM, yang membedakan markup dan margin; persen untung dan rugi dari dua harga dihitung di cara menghitung persentase keuntungan.
Diskon dihitung sebelum atau sesudah PPN
Undang-undang PPN menjawabnya lewat definisi Harga Jual. UU 8/1983 sebagaimana diubah UU 42/2009 Pasal 1 angka 18 menyebut Harga Jual tidak termasuk PPN yang dipungut dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. Pasal 13 ayat (5) huruf c mewajibkan Faktur Pajak memuat potongan harga. Artinya, bila potongan dicantumkan di faktur, PPN dihitung dari harga setelah potongan.
Tarifnya 12% sejak 1 Januari 2025 menurut UU 7/2021 Pasal 4 angka 2 yang mengubah Pasal 7 ayat (1) UU PPN. PMK 131/2024 lalu membedakan dua kelompok. Untuk barang mewah objek PPnBM, PPN = 12% × harga jual (Pasal 2). Untuk semua barang dan jasa lainnya, PPN = 12% × DPP nilai lain, dan nilai lain itu 11/12 dari harga jual (Pasal 3). Hasilnya 12% × 11/12 = 11% dari harga jual. Angka 11% itu hasil hitung, bukan angka yang tertulis di PMK.
| Rezim | Tarif | DPP | Tarif efektif dari harga jual | Berlaku | Dasar |
|---|---|---|---|---|---|
| Barang dan jasa kena pajak selain barang mewah | 12% | 11/12 × harga jual | 11% | 2025-01-01 | PMK 131/2024 Pasal 3 ayat (1)–(3) |
| Barang mewah objek PPnBM (kendaraan bermotor dan selain kendaraan bermotor) | 12% | harga jual | 12% | 2025-02-01 | PMK 131/2024 Pasal 2 ayat (2)–(3) dan Pasal 5 huruf b |
| Barang mewah ke konsumen akhir, masa transisi | 12% | 11/12 × harga jual | 11% | 2025-01-01 s.d. 2025-01-31 | PMK 131/2024 Pasal 5 huruf a |
| Tarif umum UU HPP sebelum 2025 | 11% | harga jual | 11% | 2022-04-01 s.d. 2024-12-31 | UU 7/2021 Pasal 4 angka 2 (Pasal 7 ayat (1) huruf a UU PPN) |
| DPP nilai lain dan besaran tertentu yang diatur ulang PMK 11/2025 | belum terverifikasi | — | — | 2025-02-04 | PMK 11/2025 (teks belum dibuka). Hanya diketahui dari siaran pers DJP SP-4; teks PMK belum dibaca dari JDIH Kemenkeu, jadi tidak ada angka yang dipakai. |
Contoh 4 — diskon bertingkat lalu PPN. Barang tidak mewah seharga Rp500.000 sebelum PPN, diskon 30% lalu 20%, potongan dicantumkan di Faktur Pajak.
- Harga jual setelah diskon: Rp500.000 × 0,7 × 0,8 = Rp280.000.
- DPP nilai lain: 11/12 × Rp280.000 = Rp256.666,67.
- PPN: 12% × Rp256.666,67 = Rp30.800, sama dengan 11% × Rp280.000.
- Total bayar: Rp280.000 + Rp30.800 = Rp310.800.
- Bila potongan tidak mengurangi DPP, PPN tetap 11% × Rp500.000 = Rp55.000, dan totalnya Rp335.000 — Rp24.200 lebih mahal.
Hal yang sering diperdebatkan di kasir — "diskonnya dari harga sebelum atau sesudah pajak?" — ternyata tidak mengubah total selama diskonnya persen dan mengurangi DPP. Rp500.000 × 1,11 × 0,56 dan Rp500.000 × 0,56 × 1,11 sama-sama Rp310.800, karena perkalian bisa ditukar. Perbedaan baru muncul untuk potongan rupiah dan untuk potongan yang tidak dicantumkan di faktur.
| Skenario | Harga jual setelah diskon | DPP (11/12) | PPN 12% | Total bayar | Total bila DPP tetap harga sebelum diskon |
|---|---|---|---|---|---|
| Tanpa diskon | Rp500.000 | Rp458.333,33 | Rp55.000 | Rp555.000 | Rp555.000 |
| Diskon 20% | Rp400.000 | Rp366.666,67 | Rp44.000 | Rp444.000 | Rp455.000 |
| Diskon 30% lalu 20% | Rp280.000 | Rp256.666,67 | Rp30.800 | Rp310.800 | Rp335.000 |
| Diskon 50% | Rp250.000 | Rp229.166,67 | Rp27.500 | Rp277.500 | Rp305.000 |
| Diskon 50% lalu 50% | Rp125.000 | Rp114.583,33 | Rp13.750 | Rp138.750 | Rp180.000 |
Cara menghitung harga sebelum PPN dari harga yang sudah termasuk PPN
Harga termasuk PPN adalah harga jual × (1 + tarif efektif). Untuk mundur, bagi dengan faktor itu. Mengurangi 11% dari total memberi angka yang terlalu kecil, karena 11% itu dihitung dari harga sebelum pajak, bukan dari total.
Contoh 5 — membongkar harga Rp1.665.000. Harga barang tidak mewah Rp1.665.000 sudah termasuk PPN.
- Faktor: 1 + 12% × 11/12 = 1,11.
- Harga jual: Rp1.665.000 ÷ 1,11 = Rp1.500.000.
- DPP: 11/12 × Rp1.500.000 = Rp1.375.000. PPN: 12% × Rp1.375.000 = Rp165.000.
- Cara keliru Rp1.665.000 × 0,89 = Rp1.481.850, meleset Rp18.150. Untuk barang mewah faktornya 1,12, sehingga harga jualnya Rp1.486.607,14.
| Harga termasuk PPN | Harga jual (tidak mewah) | PPN (tidak mewah) | Harga jual (mewah) | PPN 12% (mewah) |
|---|---|---|---|---|
| Rp11.100 | Rp10.000 | Rp1.100 | Rp9.910,71 | Rp1.189,29 |
| Rp55.500 | Rp50.000 | Rp5.500 | Rp49.553,57 | Rp5.946,43 |
| Rp111.000 | Rp100.000 | Rp11.000 | Rp99.107,14 | Rp11.892,86 |
| Rp250.000 | Rp225.225,23 | Rp24.774,77 | Rp223.214,29 | Rp26.785,71 |
| Rp1.000.000 | Rp900.900,90 | Rp99.099,10 | Rp892.857,14 | Rp107.142,86 |
| Rp25.000.000 | Rp22.522.522,52 | Rp2.477.477,48 | Rp22.321.428,57 | Rp2.678.571,43 |
Rumus yang sama dipakai untuk memeriksa berapa PPN di dalam tagihan jasa, atau berapa pendapatan sebelum pajak dari penjualan yang dicatat bruto. Untuk penjual yang juga menghitung laba per produk, angka yang dipakai adalah harga jual sebelum PPN, karena PPN yang dipungut disetorkan dan bukan pendapatan.
Aturan label harga dan tawaran diskon
Hitungan diskon yang benar juga cara memeriksa promosi. UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 9 ayat (1) huruf a melarang pelaku usaha menawarkan barang secara tidak benar seolah-olah barang itu memiliki potongan harga, dan Pasal 10 huruf a dan d melarang pernyataan yang menyesatkan tentang harga dan tawaran potongan harga. Pasal 62 ayat (1) mengancam pelanggarnya dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp2.000.000.000.
Aturan pencantuman harga di toko ada di Permendag 35/M-DAG/PER/7/2013. Salinan yang kami baca mewajibkan keterangan apakah harga sudah atau belum termasuk pajak, dan menyatakan bahwa bila harga di label berbeda dengan harga saat bayar, yang berlaku harga terendah. Salinan itu dihosting asosiasi pengusaha, bukan situs Kementerian Perdagangan, dan status berlakunya belum dapat kami konfirmasi di JDIH Kemendag, sehingga baris-barisnya ditandai belum terverifikasi.
| Peraturan | Pasal | Isi | Angka | Status |
|---|---|---|---|---|
| UU 8/1999 | Pasal 9 ayat (1) huruf a | Dilarang menawarkan atau mengiklankan barang secara tidak benar seolah-olah memiliki potongan harga atau harga khusus. | — | terverifikasi |
| UU 8/1999 | Pasal 10 huruf a dan d | Dilarang membuat pernyataan tidak benar atau menyesatkan mengenai harga dan tawaran potongan harga. | — | terverifikasi |
| UU 8/1999 | Pasal 62 ayat (1) | Pidana penjara paling lama bagi pelanggar Pasal 8, 9, 10 dan pasal lain yang disebut. | 5 tahun | terverifikasi |
| UU 8/1999 | Pasal 62 ayat (1) | Pidana denda paling banyak bagi pelanggar Pasal 8, 9, 10 dan pasal lain yang disebut. | Rp2.000.000.000 | terverifikasi |
| UU 8/1983 s.t.d.d. UU 42/2009 | Pasal 1 angka 18 | Harga Jual tidak termasuk PPN yang dipungut dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. | — | terverifikasi |
| UU 8/1983 s.t.d.d. UU 42/2009 | Pasal 13 ayat (5) huruf c | Faktur Pajak paling sedikit memuat jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga. | — | terverifikasi |
| Permendag 35/M-DAG/PER/7/2013 | Pasal 3 ayat (2) | Pencantuman harga barang yang dikenai pajak harus memuat keterangan sudah termasuk atau belum termasuk pajak. | — | belum terverifikasi: Salinan dari situs asosiasi, bukan JDIH Kemendag; status berlaku belum dikonfirmasi. |
| Permendag 35/M-DAG/PER/7/2013 | Pasal 6 ayat (3)–(4) | Harga dengan pecahan rupiah yang tidak beredar boleh dibulatkan ke nominal yang beredar dan diinformasikan saat pembayaran. | — | belum terverifikasi: Salinan dari situs asosiasi, bukan JDIH Kemendag; status berlaku belum dikonfirmasi. |
| Permendag 35/M-DAG/PER/7/2013 | Pasal 7 ayat (2) | Bila harga yang dicantumkan berbeda dengan harga saat pembayaran, yang berlaku adalah harga terendah. | — | belum terverifikasi: Salinan dari situs asosiasi, bukan JDIH Kemendag; status berlaku belum dikonfirmasi. |
| Permendag 35/M-DAG/PER/7/2013 | Pasal 9 | Sanksi pencabutan izin usaha perdagangan setelah peringatan tertulis beberapa kali. | 3 kali peringatan tertulis | belum terverifikasi: Salinan dari situs asosiasi, bukan JDIH Kemendag; status berlaku belum dikonfirmasi. |
Pola yang sama berlaku untuk promosi produk investasi atau gaji: angka persen di iklan perlu dibaca bersama dasarnya. Return saham "naik 10%" sebelum biaya berbeda dengan return bersih, yang bisa dihitung di kalkulator saham; kenaikan gaji 10% berbeda dengan kenaikan gaji bersih setelah PPh 21 dan iuran, yang dihitung di kalkulator gaji bersih.
Yang tidak dihitung kalkulator diskon ini
PPnBM atas barang mewah tidak dihitung; mode barang mewah hanya menghitung PPN 12% dari harga jual. Rezim khusus — barang dan jasa dengan DPP nilai lain atau besaran tertentu yang diatur tersendiri, yang dikecualikan PMK 131/2024 Pasal 4 dari Pasal 2 dan 3 — tidak dimodelkan; PMK 11/2025 yang mengatur ulang rezim itu belum kami baca teksnya. Pembulatan PPN di Faktur Pajak dan pembulatan harga ke pecahan rupiah yang beredar tidak diterapkan: hasil ditampilkan sampai sen. Cashback yang dibayar belakangan bukan potongan harga di struk, sehingga tidak mengurangi harga bayar dalam hitungan ini; masukkan sebagai voucher bila ingin melihat biaya bersihnya. Untuk pajak atas gaji, lihat tarif TER PPh 21, dan untuk kurs yang dipakai menghitung PPN impor, lihat kurs pajak.
Semua angka yang kamu ketik diproses di perangkatmu. Tidak ada akun, tidak ada harga yang dikirim ke server, dan riwayat hanya tersimpan bila kamu menekan tombol simpan.
Sumber dan dasar hukum
- UU 7/2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, Pasal 4 angka 2 (Pasal 7 ayat (1) dan (3) UU PPN: tarif 11% mulai 1 April 2022, 12% paling lambat 1 Januari 2025, rentang 5%–15%) dan angka 3 (Pasal 8A ayat (1): PPN = tarif × DPP). pajak.go.id (PDF). Diperiksa 14 September 2026.
- PMK 131/2024 — Pasal 2 (barang mewah: 12% × harga jual), Pasal 3 (lainnya: 12% × DPP nilai lain 11/12), Pasal 4 ayat (1) (pengecualian rezim khusus), Pasal 5 (transisi Januari 2025). JDIH Kemenkeu (PDF). Diperiksa 14 September 2026.
- UU 8/1983 sebagaimana diubah UU 42/2009 — Pasal 1 angka 18 dan 19 (Harga Jual dan Penggantian tidak termasuk potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak), Pasal 13 ayat (5) huruf c (isi Faktur Pajak). JDIH Kemenkeu. Diperiksa 14 September 2026.
- UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen — Pasal 9 ayat (1) huruf a, Pasal 10 huruf a dan d, Pasal 62 ayat (1). JDIH Kemenkeu. Diperiksa 14 September 2026.
- Permendag 35/M-DAG/PER/7/2013 tentang Pencantuman Harga Barang dan Tarif Jasa — Pasal 3 ayat (2), Pasal 6 ayat (3)–(4), Pasal 7 ayat (2), Pasal 9. Belum terverifikasi: dibaca dari salinan di apindo.or.id; JDIH Kemendag tidak dapat diakses saat pemeriksaan 14 September 2026.
- Data yang dipakai kalkulator: ppn.csv, aturan-harga.csv — lisensi CC BY 4.0. Cara kami memeriksa angka: Metodologi.
Pertanyaan yang sering ditanya
Bagaimana cara menghitung diskon persen dari harga barang?
Berapa total diskon 30% ditambah 20%?
Mana yang lebih hemat, voucher dipotong dulu atau diskon persen dulu?
Bagaimana cara menghitung harga asli sebelum diskon?
Apakah diskon dihitung sebelum atau sesudah PPN?
Kenapa PPN 12% untuk barang biasa hanya 11% dari harga?
Bagaimana cara mengetahui harga sebelum PPN dari harga yang sudah termasuk PPN?
Ditinjau oleh Deepak Middha
Chartered Accountant dan pemegang Series 65, dengan 18 tahun di industri hedge fund pada akuntansi dana, administrasi investasi, dan pelaporan. Rumus diskon, tarif dan DPP PPN, serta rujukan pasal di halaman ini diperiksa terhadap teks UU 7/2021, PMK 131/2024, UU 42/2009, dan UU 8/1999.