Kalkulator investasi: berapa setoran per bulan agar target tercapai

Setoran per bulan = (target − nilai masa depan modal) ÷ faktor anuitas [(1 + i)N − 1] ÷ i, dengan target dinaikkan inflasi lebih dulu. Kalkulator memakai inflasi rata-rata BPS 3,15% dan memotong bunga dengan PPh final 20% (deposito) atau 10% (SBN).

Isi 0 bila mulai dari nol.
Mengisi bunga dan pajak dari data resmi. Mengubah bunga atau pajak sendiri beralih ke "instrumen lain".

Kalkulator ini menjawab berapa yang harus kamu sisihkan setiap bulan agar uang untuk uang muka rumah, biaya sekolah, atau pensiun cukup ketika dibutuhkan, dengan target yang dinyatakan dalam harga hari ini. Mode kedua membalik pertanyaannya: setoran yang sanggup kamu lakukan akan menjadi berapa. Tidak ada produk yang ditawarkan, tidak ada login, dan angka yang kamu ketik tidak dikirim ke mana pun.

SR025T56,90%imbalan tetap, ditawarkan sampai 16 September 2026
TBP LPS bank umum3,75%1 Juli–30 September 2026
PPh final bunga10% / 20%SBN (PP 91/2021) / deposito (PMK 212/2018)
Inflasi rata-rata 12 bulan3,15%BPS, September 2025–Agustus 2026

Poin utama

  • Target Rp100 juta dalam harga hari ini menjadi Rp136,4 juta sepuluh tahun lagi bila inflasi rata-rata 3,15% berlanjut.
  • Untuk target itu tanpa modal awal, setoran bulanannya Rp822.975 dengan imbalan SR025T5 setelah pajak, dan Rp976.045 dengan deposito berbunga setinggi TBP.
  • Menyimpan tanpa bunga butuh Rp1.136.806 per bulan, jadi bunga menanggung sekitar 28% dari target pada asumsi SBN.
  • Setoran yang naik 5% per tahun menurunkan setoran bulan pertama lebih dari seperempat pada jangka 15 tahun.
  • Pajak final bunga sudah dipotong di dalam hitungan, bukan dikurangkan di akhir.
Data per 14 September 2026

Dua pertanyaan yang dijawab kalkulator investasi ini

Kebanyakan orang tidak memulai dari "saya punya Rp1 juta per bulan", tetapi dari tujuan: uang muka rumah lima tahun lagi, biaya kuliah anak lima belas tahun lagi, atau dana untuk berhenti bekerja. Karena itu mode bawaan kalkulator ini adalah target → setoran. Kamu mengisi jumlah yang dibutuhkan, dana yang sudah ada, dan jangka waktu; kalkulator mencari setoran bulanan terkecil yang membuat saldo akhir tepat mencapai target setelah pajak.

Mode setoran → hasil berguna ketika kemampuan menabungmu yang sudah pasti. Isi setoran bulanan, dan kalkulator menampilkan saldo akhir, bunga bersih, pajak yang dipotong, serta nilai riil saldo itu. Kedua mode memakai mesin hitung yang sama dengan kalkulator bunga majemuk; bedanya, di sini frekuensi majemuk dikunci bulanan karena setoran dan imbalan SBN ritel sama-sama bergerak per bulan, dan pilihan instrumen mengisi bunga serta pajak dari data resmi.

Di bawah hasil selalu ada tabel pembanding. Tabel itu menjalankan input yang sama pada setiap preset instrumen ditambah skenario tanpa bunga, sehingga kamu langsung melihat berapa setoran yang dihemat oleh imbal hasil, dan berapa yang hilang karena perbedaan tarif pajak.

Rumus setoran bulanan untuk mencapai target investasi

Setoran bulanan adalah kebalikan dari rumus nilai masa depan anuitas. Nilai masa depan dana yang sudah ada dikurangkan dari target, lalu sisanya dibagi dengan faktor anuitas setelah pajak.

Target nominal = Target hari ini × (1 + inflasi)tahun
i = bunga × (1 − tarif pajak) ÷ 12; N = tahun × 12
Faktor anuitas = [(1 + i)N − 1] ÷ i  (× (1 + i) bila setor di awal bulan)
Setoran = (Target nominal − Modal × (1 + i)N) ÷ Faktor anuitas

Faktor anuitas bisa dibaca sebagai "berapa rupiah di akhir jangka waktu yang dihasilkan oleh setoran Rp1 per bulan". Pada imbal hasil bersih 0,5175% per bulan selama 60 bulan, faktornya 70,15: setiap Rp1 yang disetor rutin menjadi Rp70,15, padahal yang disetor hanya Rp60. Bila kenaikan setoran tahunan atau batas bebas pajak Rp7,5 juta diisi, saldo tidak lagi berupa anuitas murni, dan kalkulator mencari setorannya dengan menghitung saldo bulan demi bulan.

Dari tujuan hari ini ke setoran per bulan1. Target dalam rupiah hari iniRp100.000.000harga tujuan bila dibeli sekarang2. Naikkan dengan inflasi 3,15%Rp136.416.766× (1 + inflasi)^10 tahun3. Kurangi nilai masa depan modal awal− Rp0contoh ini mulai tanpa modal4. Tarif bersih per bulan0,5175%SR025T5 6,9% dikurangi PPh 10%, dibagi 12=5. Bagi dengan faktor anuitasRp822.975 per bulanfaktor = [(1 + i)^120 − 1] ÷ i
Contoh 10 tahun dengan asumsi SR025T5 6,9% dan inflasi rata-rata 12 bulan BPS. Kalkulator menjalankan urutan yang sama dengan angkamu, termasuk kenaikan setoran tahunan bila diisi.

Contoh menghitung target investasi langkah demi langkah

Contoh 1 — uang muka rumah lima tahun lagi. Uang muka yang dibutuhkan Rp150.000.000 dalam harga hari ini. Dana yang sudah ada Rp20.000.000. Asumsi imbal hasil 6,90% per tahun (imbalan SR025T5), PPh final 10%, setoran di akhir bulan, inflasi 3,15%.

  1. Target nominal: Rp150.000.000 × 1,03155 = Rp175.196.382.
  2. Tarif bersih per bulan: 6,90% × 0,9 ÷ 12 = 0,5175%. N = 60 bulan.
  3. Nilai dana yang sudah ada di akhir: Rp20.000.000 × 1,00517560 = Rp27.260.305.
  4. Kekurangan yang harus ditutup setoran: Rp175.196.382 − Rp27.260.305 = Rp147.936.077.
  5. Faktor anuitas 60 bulan: 70,1479. Setoran = Rp147.936.077 ÷ 70,1479 = Rp2.108.918 per bulan.
  6. Total uang yang kamu keluarkan Rp146.535.047 termasuk dana awal; sisanya, Rp28.661.335, datang dari imbal hasil bersih.

Contoh 2 — biaya pendidikan lima belas tahun lagi, dua instrumen. Target Rp300.000.000 dalam harga hari ini, mulai dari nol, setoran akhir bulan, inflasi 3,15%.

  1. Target nominal: Rp300.000.000 × 1,031515 = Rp477.994.477.
  2. Dengan deposito berbunga 3,75% (setinggi TBP LPS) dan PPh 20%: setoran Rp2.105.902 per bulan.
  3. Dengan imbal hasil 6,90% dan PPh 10%: setoran Rp1.614.400 per bulan, lebih ringan Rp491.502 setiap bulan.
  4. Selama 180 bulan selisih setoran itu berjumlah Rp88.470.360, sekitar 30% dari target hari ini.
  5. Bila setoran pada asumsi 6,90% dinaikkan 5% setiap tahun, setoran tahun pertama cukup Rp1.186.931 per bulan.

Contoh 3 — mode hasil untuk setoran kecil yang konsisten. Rp500.000 di awal setiap bulan selama 20 tahun, imbal hasil 6% per tahun, PPh final 10%, inflasi 3,15%.

  1. Tarif bersih per bulan: 6% × 0,9 ÷ 12 = 0,45%. Imbal hasil bersih efektif 5,54% per tahun.
  2. Total setoran: Rp500.000 × 240 = Rp120.000.000.
  3. Saldo akhir: Rp216.252.556, jadi bunga bersihnya Rp96.252.556.
  4. Nilai riil: Rp216.252.556 ÷ 1,031520 = Rp116.205.250 dalam rupiah hari ini.
  5. Artinya, setelah dua puluh tahun daya beli seluruh tabungan itu masih sedikit di bawah jumlah yang disetor, walaupun saldo nominalnya hampir dua kali lipat.

Contoh 3 layak dibaca dua kali. Saldo yang tampak besar belum tentu berarti daya beli bertambah banyak: imbal hasil riil sekitar 2,3% per tahun hanya sedikit di atas nol, dan setoran di tahun-tahun terakhir hampir tidak sempat berbunga.

Target dalam rupiah hari ini: kenapa inflasi harus masuk sejak awal

Harga yang kamu lihat hari ini untuk uang muka rumah, biaya kuliah, atau ongkos naik haji bukan harga yang akan dibayar nanti. Menabung untuk Rp100 juta nominal selama sepuluh tahun berarti menabung untuk sesuatu yang, pada inflasi rata-rata 3,15%, hanya seharga Rp73,3 juta hari ini. Karena itu pilihan bawaan jenis target adalah rupiah hari ini: kalkulator menaikkan target dengan inflasi pilihanmu lebih dulu, baru mencari setorannya.

Tabel berikut menghitung setoran untuk daya beli Rp100 juta pada lima jangka waktu. Perhatikan kolom tanpa bunga: pada jangka pendek, bunga hampir tidak mengubah setoran; pada jangka dua puluh tahun, imbal hasil SBN setelah pajak memangkas setoran hampir separuh dibanding hanya menyimpan.

Setoran per bulan (akhir bulan, tanpa modal awal) untuk mengumpulkan uang yang daya belinya setara Rp100 juta hari ini. Target dinaikkan dengan inflasi 3,15% per tahun. Deposito memakai bunga setinggi TBP LPS bank umum dengan PPh 20%; SR025T5 memakai imbalan tetapnya dengan PPh 10% dan imbalan bulanan diinvestasikan kembali.
Jangka waktuTarget nominalDeposito di TBP 3,75%SR025T5 6,9%Tanpa bunga
3 tahunRp109.764.101Rp2.917.504Rp2.781.662Rp3.049.003
5 tahunRp116.797.588Rp1.806.504Rp1.665.020Rp1.946.626
10 tahunRp136.416.766Rp976.045Rp822.975Rp1.136.806
15 tahunRp159.331.492Rp701.820Rp538.133Rp885.175
20 tahunRp186.095.340Rp566.691Rp392.845Rp775.397
Setoran per bulan untuk daya beli Rp100 jutaDeposito di TBP 3,75%SR025T5 6,9%Tanpa bungaRp0Rp500 rbRp1 jtRp1,5 jtRp2 jtRp2,5 jtRp3 jtRp3,5 jt3 th5 th10 th15 th20 th
Target nominal naik mengikuti inflasi 3,15% per tahun, jadi pada 20 tahun targetnya Rp186.095.340. Batang tanpa bunga menunjukkan berapa yang harus disisihkan kalau uangnya hanya disimpan.

Asumsi inflasi mana yang dipakai mengubah hasil lebih banyak dari yang disangka. Pada jangka lima belas tahun, perbedaan antara target Bank Indonesia 2,5% dan rata-rata dua belas bulan terakhir 3,15% membuat target nominal berbeda sekitar sepuluh persen. Kalkulator menyediakan inflasi terbaru, rata-rata dua belas bulan, rata-rata seluruh seri BPS sejak Januari 2024, target BI, inflasi kota atau kabupatenmu, dan angka sendiri, sehingga kamu bisa menghitung skenario ringan dan berat lalu memakai setoran yang lebih aman. Seri lengkapnya bisa dilihat di halaman inflasi Indonesia.

Asumsi imbal hasil per instrumen dan pajaknya

Kalkulator investasi yang meminta "imbal hasil per tahun" tanpa memberi pegangan membuat orang mengisi angka dari iklan. Preset di sini diisi dari data yang bisa ditelusuri: imbalan SR025T5 dan kupon ORI030T6 dari halaman rencana penjualan DJPPR Kementerian Keuangan, tingkat bunga penjaminan LPS untuk bank umum, dan bunga deposito 12 bulan BRI dari halaman suku bunga bank itu sendiri. Setiap preset juga memasang tarif pajak yang benar untuk instrumennya.

Seri SBN ritel yang ditawarkan Pemerintah sepanjang 2026 sampai 14 September 2026, dari halaman DJPPR Kemenkeu. Kupon bruto; PPh final 10% menurut PP 91/2021.
SeriJenisKupon/imbalanTenorMasa penawaranDapat dijual sebelum jatuh tempoCatatan
ORI029T3Obligasi Negara Ritel5,45% tetap3 tahun
jatuh tempo 15 Februari 2029
26 Januari–19 Februari 2026Ya, di pasar sekunder
ORI029T6Obligasi Negara Ritel5,8% tetap6 tahun
jatuh tempo 15 Februari 2032
26 Januari–19 Februari 2026Ya, di pasar sekunder
SR024T3Sukuk Ritel5,55% tetap3 tahun
jatuh tempo 10 Maret 2029
6 Maret–15 April 2026Ya, di pasar sekunder
SR024T5Sukuk Ritel5,9% tetap5 tahun
jatuh tempo 10 Maret 2031
6 Maret–15 April 2026Ya, di pasar sekunder
ST016T2Sukuk Tabungan6,05% minimal
berjalan 7,05%
2 tahun
jatuh tempo 10 Juni 2028
8 Mei–3 Juni 2026Tidak; ST hanya lewat early redemptionAcuan BI-Rate + 130 bps. Tidak dapat diperdagangkan; pencairan sebelum jatuh tempo hanya pada periode early redemption, paling banyak 50% per transaksi.
ST016T4Sukuk Tabungan6,25% minimal
berjalan 7,25%
4 tahun
jatuh tempo 10 Mei 2030
8 Mei–3 Juni 2026Tidak; ST hanya lewat early redemptionAcuan BI-Rate + 150 bps. Green sukuk. Pencairan sebelum jatuh tempo hanya pada periode early redemption.
ORI030T3Obligasi Negara Ritel6,9% tetap3 tahun
jatuh tempo 15 Juli 2029
6–30 Juli 2026Ya, di pasar sekunderDiperdagangkan hanya antarinvestor domestik. Kupon dibayar tanggal 15 setiap bulan.
ORI030T6Obligasi Negara Ritel7% tetap6 tahun
jatuh tempo 15 Juli 2032
6–30 Juli 2026Ya, di pasar sekunderDiperdagangkan hanya antarinvestor domestik.
SR025T3Sukuk Ritel6,8% tetap3 tahun
jatuh tempo 10 September 2029
21 Agustus–16 September 2026 pukul 12.00 WIBYa, di pasar sekunderMasih ditawarkan pada 14 September 2026. Imbalan dibayar tanggal 10 setiap bulan; dapat diperdagangkan setelah minimum holding period satu kali pembayaran imbalan. Pemesanan maksimal Rp5 miliar.
SR025T5Sukuk Ritel6,9% tetap5 tahun
jatuh tempo 10 September 2031
21 Agustus–16 September 2026 pukul 12.00 WIBYa, di pasar sekunderMasih ditawarkan pada 14 September 2026. Pemesanan maksimal Rp10 miliar.
SWR007Sukuk Wakaf Ritel (CWLS)6,7% minimal2 tahun
jatuh tempo 10 Oktober 2028
4 September–21 Oktober 2026Tidak; ST hanya lewat early redemptionImbalan disalurkan seluruhnya kepada nazhir; investor menerima kembali pokok saat jatuh tempo, bukan imbalan.

Ada tiga hal yang perlu diingat saat memakai imbalan SBN sebagai asumsi. Pertama, imbalan dibayar tunai setiap bulan, tidak ditambahkan ke pokok; hasil kalkulator baru tercapai bila imbalan itu kamu tempatkan kembali. Kedua, tenor seri SBN ritel yang terbit sepanjang 2026 dua sampai enam tahun, lebih pendek dari banyak target jangka panjang, sehingga tingkat imbalan saat seri berikutnya terbit bisa berbeda. Ketiga, Sukuk Tabungan dan sukuk wakaf tidak dapat diperdagangkan; ST hanya bisa dicairkan sebagian pada periode early redemption.

Deposito dipasang pada bunga setinggi TBP LPS bank umum, 3,75%, karena itulah bunga tertinggi yang simpanannya masih dijamin LPS selama periode 1 Juli sampai 30 September 2026. Bunga promosi bank digital di atas angka itu tersedia di tabel bunga deposito, lengkap dengan status penjaminannya. Tabel di bawah memperlihatkan seberapa besar pajak final menggerus setoran yang sama pada bunga bruto yang sama.

Setoran Rp1 juta per bulan selama 10 tahun pada bunga bruto yang sama, 6% per tahun: berapa yang hilang karena pajak final. Batas tidak dipotong Rp7,5 juta diterapkan pada baris deposito.
Perlakuan pajakTotal setoranSaldo akhirPajak dibayarKurang dari tanpa pajak
Tanpa pajakRp120.000.000Rp163.879.347Rp0Rp0
PPh final 10% (bunga SBN/obligasi)Rp120.000.000Rp158.650.979Rp4.294.553Rp5.228.368
PPh final 20% (bunga deposito/tabungan)Rp120.000.000Rp153.676.540Rp8.383.783Rp10.202.807

Selisih tarif sepuluh poin persen antara bunga deposito dan kupon SBN bernilai sekitar Rp5 juta per sepuluh tahun untuk setoran Rp1 juta per bulan. Dasar hukumnya PP 91/2021 Pasal 2 untuk bunga obligasi, termasuk SBN dan imbalan sukuk, serta PP 131/2000 Pasal 2 dan PMK 212/PMK.03/2018 Pasal 5 untuk bunga deposito dan tabungan.

Menaikkan setoran setiap tahun

Setoran yang tetap selama lima belas tahun berarti setoran yang makin ringan dibanding penghasilan, karena gaji dan harga sama-sama naik. Kolom kenaikan setoran memodelkan kebiasaan yang lebih realistis: setoran dinaikkan setiap dua belas bulan dengan persen yang sama. Setoran bulan pertama menjadi lebih kecil, dan beban setoran terasa lebih rata sepanjang jangka waktu.

Harganya adalah total setoran yang lebih besar. Pada Contoh 2, setoran awal Rp1.186.931 yang naik 5% per tahun berakhir di sekitar Rp2,35 juta per bulan pada tahun kelima belas. Karena setoran besar datang belakangan, uang itu berbunga lebih singkat dibanding setoran tetap. Kenaikan setoran cocok bila kamu yakin penghasilanmu naik; bila tidak, setoran tetap yang lebih tinggi sejak awal lebih aman.

Setoran yang naik sama besar dengan inflasi punya sifat yang enak dibaca: setorannya tetap sama dalam rupiah hari ini. Isi kenaikan setoran dengan asumsi inflasi yang sama untuk melihat berapa yang harus disisihkan bila beban riilmu dijaga konstan.

Kesalahan umum saat merencanakan target investasi

  1. Menulis target dalam harga hari ini tetapi menghitungnya sebagai nominal. Setoran yang dihasilkan kurang, dan kekurangannya baru terasa di tahun terakhir.
  2. Memakai imbal hasil bruto. Setoran yang dihitung dari kupon 6,90% tanpa pajak lebih kecil daripada yang sebenarnya dibutuhkan.
  3. Menghitung imbalan SBN seolah berbunga majemuk otomatis. Imbalan yang dibiarkan di rekening tabungan berbunga jauh lebih rendah.
  4. Menaruh dana darurat dan dana tujuan jangka panjang di satu rekening. Penarikan untuk keperluan mendadak memotong compounding dana tujuan.
  5. Tidak menghitung ulang. Bunga, tarif, dan inflasi berubah; hitung ulang setiap tahun dengan saldo terbaru sebagai dana yang sudah ada.

Yang tidak dihitung kalkulator ini

Kalkulator tidak memodelkan imbal hasil yang naik turun. Reksa dana, saham, dan emas bisa diisi lewat pilihan instrumen lain dengan imbal hasil rata-rata, tetapi urutan tahun baik dan tahun buruk ikut menentukan hasil akhir, terutama menjelang target. Biaya seperti biaya pembelian dan penjualan produk, biaya penyimpanan, atau selisih harga jual SBN di pasar sekunder tidak dikurangkan. Perlakuan pajak instrumen di luar bunga deposito, tabungan, dan obligasi tidak dipasang sebagai preset karena belum kami verifikasi dari teks peraturannya.

Target yang berupa pengeluaran rutin setelah jangka waktu berakhir, misalnya penghasilan bulanan selama pensiun, juga belum dihitung. Kalkulator ini berhenti pada saldo di tanggal target. Untuk bunga kredit sebagai sisi lain dari perhitungan yang sama, lihat simulasi KPR; untuk dana yang berasal dari potongan gaji, lihat tarif TER PPh 21 dan pencairan JHT.

Sumber dan dasar hukum

Pertanyaan yang sering ditanya

Bagaimana cara menghitung investasi bulanan untuk mencapai target tertentu?
Naikkan target dengan inflasi bila target itu dalam harga hari ini. Hitung nilai masa depan dana yang sudah ada, lalu kurangkan dari target. Sisanya dibagi faktor anuitas [(1 + i)N − 1] ÷ i, dengan i imbal hasil bersih per bulan setelah pajak dan N jumlah bulan. Kalkulator di halaman ini menampilkan setiap langkah dengan angkamu.
Berapa imbal hasil yang wajar diisi di kalkulator investasi?
Pakai imbal hasil instrumen yang benar-benar akan kamu beli. Untuk SBN ritel, imbalan seri yang sedang ditawarkan, misalnya SR025T5 6,90% per tahun. Untuk deposito, bunga bank pilihanmu, dengan catatan bunga di atas TBP LPS 3,75% tidak dijamin. Untuk instrumen yang naik turun, hitung dua skenario, rendah dan tinggi, lalu pakai setoran yang lebih besar.
Apa bedanya target dalam rupiah hari ini dan target nominal?
Target rupiah hari ini adalah harga tujuanmu bila dibeli sekarang; kalkulator menaikkannya dengan inflasi menjadi target nominal di akhir jangka waktu. Target nominal dipakai apa adanya. Pilih nominal bila jumlahnya sudah pasti, seperti pelunasan utang tertentu. Pilih rupiah hari ini untuk harga barang, biaya sekolah, atau kebutuhan hidup yang ikut naik.
Apakah kupon SBN ritel otomatis berbunga majemuk?
Tidak. Kupon ORI dan imbalan SR serta ST dibayar ke rekening setiap bulan setelah dipotong PPh final 10%. Pokok SBN tidak bertambah. Hasil kalkulator dengan preset SBN menganggap kupon itu kamu tempatkan kembali pada tingkat yang sama, misalnya dengan menabungkannya lalu membeli seri berikutnya. Tanpa itu, saldo akhirnya lebih kecil dari angka kalkulator.
Kenapa setoran awal bulan membuat setoran yang dibutuhkan lebih kecil?
Setoran di awal bulan langsung ikut berbunga pada bulan itu, sehingga setiap setoran bekerja satu bulan lebih lama. Faktor anuitasnya dikali (1 + i). Pada imbal hasil bersih 0,5175% per bulan, setoran awal bulan sekitar 0,5% lebih kecil daripada setoran akhir bulan untuk target yang sama. Pengaruhnya kecil, tetapi konsisten di setiap jangka waktu.
Apakah setoran hasil kalkulator investasi ini pasti cukup?
Hanya bila asumsinya terjadi. Bunga deposito berganti saat perpanjangan, tingkat imbalan SBN seri berikutnya belum diketahui, dan inflasi masa depan bisa lebih tinggi dari rata-rata BPS. Hitung ulang setahun sekali dengan saldo terbaru sebagai dana yang sudah ada. Kalkulator akan menaikkan atau menurunkan setoran untuk sisa jangka waktunya.

Ditinjau oleh Deepak Middha

Chartered Accountant dan pemegang Series 65, dengan 18 tahun di industri hedge fund pada akuntansi dana, administrasi investasi, dan pelaporan. Rumus anuitas, penyesuaian inflasi, tarif PPh final, dan data SBN ritel di halaman ini diperiksa terhadap PP 91/2021, PMK 212/PMK.03/2018, halaman DJPPR, dan data BPS.

Profil peninjau → · Cara kami memeriksa angka →

Halaman terkait