Kalkulator ini menjawab berapa yang harus kamu sisihkan setiap bulan agar uang untuk uang muka rumah, biaya sekolah, atau pensiun cukup ketika dibutuhkan, dengan target yang dinyatakan dalam harga hari ini. Mode kedua membalik pertanyaannya: setoran yang sanggup kamu lakukan akan menjadi berapa. Tidak ada produk yang ditawarkan, tidak ada login, dan angka yang kamu ketik tidak dikirim ke mana pun.
Poin utama
- Target Rp100 juta dalam harga hari ini menjadi Rp136,4 juta sepuluh tahun lagi bila inflasi rata-rata 3,15% berlanjut.
- Untuk target itu tanpa modal awal, setoran bulanannya Rp822.975 dengan imbalan SR025T5 setelah pajak, dan Rp976.045 dengan deposito berbunga setinggi TBP.
- Menyimpan tanpa bunga butuh Rp1.136.806 per bulan, jadi bunga menanggung sekitar 28% dari target pada asumsi SBN.
- Setoran yang naik 5% per tahun menurunkan setoran bulan pertama lebih dari seperempat pada jangka 15 tahun.
- Pajak final bunga sudah dipotong di dalam hitungan, bukan dikurangkan di akhir.
Dua pertanyaan yang dijawab kalkulator investasi ini
Kebanyakan orang tidak memulai dari "saya punya Rp1 juta per bulan", tetapi dari tujuan: uang muka rumah lima tahun lagi, biaya kuliah anak lima belas tahun lagi, atau dana untuk berhenti bekerja. Karena itu mode bawaan kalkulator ini adalah target → setoran. Kamu mengisi jumlah yang dibutuhkan, dana yang sudah ada, dan jangka waktu; kalkulator mencari setoran bulanan terkecil yang membuat saldo akhir tepat mencapai target setelah pajak.
Mode setoran → hasil berguna ketika kemampuan menabungmu yang sudah pasti. Isi setoran bulanan, dan kalkulator menampilkan saldo akhir, bunga bersih, pajak yang dipotong, serta nilai riil saldo itu. Kedua mode memakai mesin hitung yang sama dengan kalkulator bunga majemuk; bedanya, di sini frekuensi majemuk dikunci bulanan karena setoran dan imbalan SBN ritel sama-sama bergerak per bulan, dan pilihan instrumen mengisi bunga serta pajak dari data resmi.
Di bawah hasil selalu ada tabel pembanding. Tabel itu menjalankan input yang sama pada setiap preset instrumen ditambah skenario tanpa bunga, sehingga kamu langsung melihat berapa setoran yang dihemat oleh imbal hasil, dan berapa yang hilang karena perbedaan tarif pajak.
Rumus setoran bulanan untuk mencapai target investasi
Setoran bulanan adalah kebalikan dari rumus nilai masa depan anuitas. Nilai masa depan dana yang sudah ada dikurangkan dari target, lalu sisanya dibagi dengan faktor anuitas setelah pajak.
i = bunga × (1 − tarif pajak) ÷ 12; N = tahun × 12
Faktor anuitas = [(1 + i)N − 1] ÷ i (× (1 + i) bila setor di awal bulan)
Setoran = (Target nominal − Modal × (1 + i)N) ÷ Faktor anuitas
Faktor anuitas bisa dibaca sebagai "berapa rupiah di akhir jangka waktu yang dihasilkan oleh setoran Rp1 per bulan". Pada imbal hasil bersih 0,5175% per bulan selama 60 bulan, faktornya 70,15: setiap Rp1 yang disetor rutin menjadi Rp70,15, padahal yang disetor hanya Rp60. Bila kenaikan setoran tahunan atau batas bebas pajak Rp7,5 juta diisi, saldo tidak lagi berupa anuitas murni, dan kalkulator mencari setorannya dengan menghitung saldo bulan demi bulan.
Contoh menghitung target investasi langkah demi langkah
Contoh 1 — uang muka rumah lima tahun lagi. Uang muka yang dibutuhkan Rp150.000.000 dalam harga hari ini. Dana yang sudah ada Rp20.000.000. Asumsi imbal hasil 6,90% per tahun (imbalan SR025T5), PPh final 10%, setoran di akhir bulan, inflasi 3,15%.
- Target nominal: Rp150.000.000 × 1,03155 = Rp175.196.382.
- Tarif bersih per bulan: 6,90% × 0,9 ÷ 12 = 0,5175%. N = 60 bulan.
- Nilai dana yang sudah ada di akhir: Rp20.000.000 × 1,00517560 = Rp27.260.305.
- Kekurangan yang harus ditutup setoran: Rp175.196.382 − Rp27.260.305 = Rp147.936.077.
- Faktor anuitas 60 bulan: 70,1479. Setoran = Rp147.936.077 ÷ 70,1479 = Rp2.108.918 per bulan.
- Total uang yang kamu keluarkan Rp146.535.047 termasuk dana awal; sisanya, Rp28.661.335, datang dari imbal hasil bersih.
Contoh 2 — biaya pendidikan lima belas tahun lagi, dua instrumen. Target Rp300.000.000 dalam harga hari ini, mulai dari nol, setoran akhir bulan, inflasi 3,15%.
- Target nominal: Rp300.000.000 × 1,031515 = Rp477.994.477.
- Dengan deposito berbunga 3,75% (setinggi TBP LPS) dan PPh 20%: setoran Rp2.105.902 per bulan.
- Dengan imbal hasil 6,90% dan PPh 10%: setoran Rp1.614.400 per bulan, lebih ringan Rp491.502 setiap bulan.
- Selama 180 bulan selisih setoran itu berjumlah Rp88.470.360, sekitar 30% dari target hari ini.
- Bila setoran pada asumsi 6,90% dinaikkan 5% setiap tahun, setoran tahun pertama cukup Rp1.186.931 per bulan.
Contoh 3 — mode hasil untuk setoran kecil yang konsisten. Rp500.000 di awal setiap bulan selama 20 tahun, imbal hasil 6% per tahun, PPh final 10%, inflasi 3,15%.
- Tarif bersih per bulan: 6% × 0,9 ÷ 12 = 0,45%. Imbal hasil bersih efektif 5,54% per tahun.
- Total setoran: Rp500.000 × 240 = Rp120.000.000.
- Saldo akhir: Rp216.252.556, jadi bunga bersihnya Rp96.252.556.
- Nilai riil: Rp216.252.556 ÷ 1,031520 = Rp116.205.250 dalam rupiah hari ini.
- Artinya, setelah dua puluh tahun daya beli seluruh tabungan itu masih sedikit di bawah jumlah yang disetor, walaupun saldo nominalnya hampir dua kali lipat.
Contoh 3 layak dibaca dua kali. Saldo yang tampak besar belum tentu berarti daya beli bertambah banyak: imbal hasil riil sekitar 2,3% per tahun hanya sedikit di atas nol, dan setoran di tahun-tahun terakhir hampir tidak sempat berbunga.
Target dalam rupiah hari ini: kenapa inflasi harus masuk sejak awal
Harga yang kamu lihat hari ini untuk uang muka rumah, biaya kuliah, atau ongkos naik haji bukan harga yang akan dibayar nanti. Menabung untuk Rp100 juta nominal selama sepuluh tahun berarti menabung untuk sesuatu yang, pada inflasi rata-rata 3,15%, hanya seharga Rp73,3 juta hari ini. Karena itu pilihan bawaan jenis target adalah rupiah hari ini: kalkulator menaikkan target dengan inflasi pilihanmu lebih dulu, baru mencari setorannya.
Tabel berikut menghitung setoran untuk daya beli Rp100 juta pada lima jangka waktu. Perhatikan kolom tanpa bunga: pada jangka pendek, bunga hampir tidak mengubah setoran; pada jangka dua puluh tahun, imbal hasil SBN setelah pajak memangkas setoran hampir separuh dibanding hanya menyimpan.
| Jangka waktu | Target nominal | Deposito di TBP 3,75% | SR025T5 6,9% | Tanpa bunga |
|---|---|---|---|---|
| 3 tahun | Rp109.764.101 | Rp2.917.504 | Rp2.781.662 | Rp3.049.003 |
| 5 tahun | Rp116.797.588 | Rp1.806.504 | Rp1.665.020 | Rp1.946.626 |
| 10 tahun | Rp136.416.766 | Rp976.045 | Rp822.975 | Rp1.136.806 |
| 15 tahun | Rp159.331.492 | Rp701.820 | Rp538.133 | Rp885.175 |
| 20 tahun | Rp186.095.340 | Rp566.691 | Rp392.845 | Rp775.397 |
Asumsi inflasi mana yang dipakai mengubah hasil lebih banyak dari yang disangka. Pada jangka lima belas tahun, perbedaan antara target Bank Indonesia 2,5% dan rata-rata dua belas bulan terakhir 3,15% membuat target nominal berbeda sekitar sepuluh persen. Kalkulator menyediakan inflasi terbaru, rata-rata dua belas bulan, rata-rata seluruh seri BPS sejak Januari 2024, target BI, inflasi kota atau kabupatenmu, dan angka sendiri, sehingga kamu bisa menghitung skenario ringan dan berat lalu memakai setoran yang lebih aman. Seri lengkapnya bisa dilihat di halaman inflasi Indonesia.
Asumsi imbal hasil per instrumen dan pajaknya
Kalkulator investasi yang meminta "imbal hasil per tahun" tanpa memberi pegangan membuat orang mengisi angka dari iklan. Preset di sini diisi dari data yang bisa ditelusuri: imbalan SR025T5 dan kupon ORI030T6 dari halaman rencana penjualan DJPPR Kementerian Keuangan, tingkat bunga penjaminan LPS untuk bank umum, dan bunga deposito 12 bulan BRI dari halaman suku bunga bank itu sendiri. Setiap preset juga memasang tarif pajak yang benar untuk instrumennya.
| Seri | Jenis | Kupon/imbalan | Tenor | Masa penawaran | Dapat dijual sebelum jatuh tempo | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|---|
| ORI029T3 | Obligasi Negara Ritel | 5,45% tetap | 3 tahun jatuh tempo 15 Februari 2029 | 26 Januari–19 Februari 2026 | Ya, di pasar sekunder | — |
| ORI029T6 | Obligasi Negara Ritel | 5,8% tetap | 6 tahun jatuh tempo 15 Februari 2032 | 26 Januari–19 Februari 2026 | Ya, di pasar sekunder | — |
| SR024T3 | Sukuk Ritel | 5,55% tetap | 3 tahun jatuh tempo 10 Maret 2029 | 6 Maret–15 April 2026 | Ya, di pasar sekunder | — |
| SR024T5 | Sukuk Ritel | 5,9% tetap | 5 tahun jatuh tempo 10 Maret 2031 | 6 Maret–15 April 2026 | Ya, di pasar sekunder | — |
| ST016T2 | Sukuk Tabungan | 6,05% minimal berjalan 7,05% | 2 tahun jatuh tempo 10 Juni 2028 | 8 Mei–3 Juni 2026 | Tidak; ST hanya lewat early redemption | Acuan BI-Rate + 130 bps. Tidak dapat diperdagangkan; pencairan sebelum jatuh tempo hanya pada periode early redemption, paling banyak 50% per transaksi. |
| ST016T4 | Sukuk Tabungan | 6,25% minimal berjalan 7,25% | 4 tahun jatuh tempo 10 Mei 2030 | 8 Mei–3 Juni 2026 | Tidak; ST hanya lewat early redemption | Acuan BI-Rate + 150 bps. Green sukuk. Pencairan sebelum jatuh tempo hanya pada periode early redemption. |
| ORI030T3 | Obligasi Negara Ritel | 6,9% tetap | 3 tahun jatuh tempo 15 Juli 2029 | 6–30 Juli 2026 | Ya, di pasar sekunder | Diperdagangkan hanya antarinvestor domestik. Kupon dibayar tanggal 15 setiap bulan. |
| ORI030T6 | Obligasi Negara Ritel | 7% tetap | 6 tahun jatuh tempo 15 Juli 2032 | 6–30 Juli 2026 | Ya, di pasar sekunder | Diperdagangkan hanya antarinvestor domestik. |
| SR025T3 | Sukuk Ritel | 6,8% tetap | 3 tahun jatuh tempo 10 September 2029 | 21 Agustus–16 September 2026 pukul 12.00 WIB | Ya, di pasar sekunder | Masih ditawarkan pada 14 September 2026. Imbalan dibayar tanggal 10 setiap bulan; dapat diperdagangkan setelah minimum holding period satu kali pembayaran imbalan. Pemesanan maksimal Rp5 miliar. |
| SR025T5 | Sukuk Ritel | 6,9% tetap | 5 tahun jatuh tempo 10 September 2031 | 21 Agustus–16 September 2026 pukul 12.00 WIB | Ya, di pasar sekunder | Masih ditawarkan pada 14 September 2026. Pemesanan maksimal Rp10 miliar. |
| SWR007 | Sukuk Wakaf Ritel (CWLS) | 6,7% minimal | 2 tahun jatuh tempo 10 Oktober 2028 | 4 September–21 Oktober 2026 | Tidak; ST hanya lewat early redemption | Imbalan disalurkan seluruhnya kepada nazhir; investor menerima kembali pokok saat jatuh tempo, bukan imbalan. |
Ada tiga hal yang perlu diingat saat memakai imbalan SBN sebagai asumsi. Pertama, imbalan dibayar tunai setiap bulan, tidak ditambahkan ke pokok; hasil kalkulator baru tercapai bila imbalan itu kamu tempatkan kembali. Kedua, tenor seri SBN ritel yang terbit sepanjang 2026 dua sampai enam tahun, lebih pendek dari banyak target jangka panjang, sehingga tingkat imbalan saat seri berikutnya terbit bisa berbeda. Ketiga, Sukuk Tabungan dan sukuk wakaf tidak dapat diperdagangkan; ST hanya bisa dicairkan sebagian pada periode early redemption.
Deposito dipasang pada bunga setinggi TBP LPS bank umum, 3,75%, karena itulah bunga tertinggi yang simpanannya masih dijamin LPS selama periode 1 Juli sampai 30 September 2026. Bunga promosi bank digital di atas angka itu tersedia di tabel bunga deposito, lengkap dengan status penjaminannya. Tabel di bawah memperlihatkan seberapa besar pajak final menggerus setoran yang sama pada bunga bruto yang sama.
| Perlakuan pajak | Total setoran | Saldo akhir | Pajak dibayar | Kurang dari tanpa pajak |
|---|---|---|---|---|
| Tanpa pajak | Rp120.000.000 | Rp163.879.347 | Rp0 | Rp0 |
| PPh final 10% (bunga SBN/obligasi) | Rp120.000.000 | Rp158.650.979 | Rp4.294.553 | Rp5.228.368 |
| PPh final 20% (bunga deposito/tabungan) | Rp120.000.000 | Rp153.676.540 | Rp8.383.783 | Rp10.202.807 |
Selisih tarif sepuluh poin persen antara bunga deposito dan kupon SBN bernilai sekitar Rp5 juta per sepuluh tahun untuk setoran Rp1 juta per bulan. Dasar hukumnya PP 91/2021 Pasal 2 untuk bunga obligasi, termasuk SBN dan imbalan sukuk, serta PP 131/2000 Pasal 2 dan PMK 212/PMK.03/2018 Pasal 5 untuk bunga deposito dan tabungan.
Menaikkan setoran setiap tahun
Setoran yang tetap selama lima belas tahun berarti setoran yang makin ringan dibanding penghasilan, karena gaji dan harga sama-sama naik. Kolom kenaikan setoran memodelkan kebiasaan yang lebih realistis: setoran dinaikkan setiap dua belas bulan dengan persen yang sama. Setoran bulan pertama menjadi lebih kecil, dan beban setoran terasa lebih rata sepanjang jangka waktu.
Harganya adalah total setoran yang lebih besar. Pada Contoh 2, setoran awal Rp1.186.931 yang naik 5% per tahun berakhir di sekitar Rp2,35 juta per bulan pada tahun kelima belas. Karena setoran besar datang belakangan, uang itu berbunga lebih singkat dibanding setoran tetap. Kenaikan setoran cocok bila kamu yakin penghasilanmu naik; bila tidak, setoran tetap yang lebih tinggi sejak awal lebih aman.
Setoran yang naik sama besar dengan inflasi punya sifat yang enak dibaca: setorannya tetap sama dalam rupiah hari ini. Isi kenaikan setoran dengan asumsi inflasi yang sama untuk melihat berapa yang harus disisihkan bila beban riilmu dijaga konstan.
Kesalahan umum saat merencanakan target investasi
- Menulis target dalam harga hari ini tetapi menghitungnya sebagai nominal. Setoran yang dihasilkan kurang, dan kekurangannya baru terasa di tahun terakhir.
- Memakai imbal hasil bruto. Setoran yang dihitung dari kupon 6,90% tanpa pajak lebih kecil daripada yang sebenarnya dibutuhkan.
- Menghitung imbalan SBN seolah berbunga majemuk otomatis. Imbalan yang dibiarkan di rekening tabungan berbunga jauh lebih rendah.
- Menaruh dana darurat dan dana tujuan jangka panjang di satu rekening. Penarikan untuk keperluan mendadak memotong compounding dana tujuan.
- Tidak menghitung ulang. Bunga, tarif, dan inflasi berubah; hitung ulang setiap tahun dengan saldo terbaru sebagai dana yang sudah ada.
Yang tidak dihitung kalkulator ini
Kalkulator tidak memodelkan imbal hasil yang naik turun. Reksa dana, saham, dan emas bisa diisi lewat pilihan instrumen lain dengan imbal hasil rata-rata, tetapi urutan tahun baik dan tahun buruk ikut menentukan hasil akhir, terutama menjelang target. Biaya seperti biaya pembelian dan penjualan produk, biaya penyimpanan, atau selisih harga jual SBN di pasar sekunder tidak dikurangkan. Perlakuan pajak instrumen di luar bunga deposito, tabungan, dan obligasi tidak dipasang sebagai preset karena belum kami verifikasi dari teks peraturannya.
Target yang berupa pengeluaran rutin setelah jangka waktu berakhir, misalnya penghasilan bulanan selama pensiun, juga belum dihitung. Kalkulator ini berhenti pada saldo di tanggal target. Untuk bunga kredit sebagai sisi lain dari perhitungan yang sama, lihat simulasi KPR; untuk dana yang berasal dari potongan gaji, lihat tarif TER PPh 21 dan pencairan JHT.
Sumber dan dasar hukum
- PP 91/2021 tentang PPh atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap — Pasal 1 angka 1 dan 2 (termasuk SBN dan imbalan sukuk), Pasal 2 ayat (1)–(3) (final 10%). JDIH Kemenkeu (PDF). Diperiksa 14 September 2026.
- PP 131/2000 jo. PP 123/2015 — Pasal 2 huruf a (bunga deposito dan tabungan final 20%), Pasal 3 ayat (1) huruf a (Rp7.500.000). JDIH Kemenkeu. Diperiksa 14 September 2026.
- PMK 212/PMK.03/2018 — Pasal 5 ayat (1) huruf c dan Pasal 7 huruf a. JDIH Kemenkeu. Diperiksa 14 September 2026.
- DJPPR Kementerian Keuangan — rencana penjualan ORI029, SR024, ST016, ORI030, SR025, dan SWR007: kupon atau imbalan, tenor, masa penawaran, dan ketentuan perdagangan. Alamat setiap seri ada di kolom
url_sumberberkas data. Diperiksa 14 September 2026. - Lembaga Penjamin Simpanan — PENG-5/DSPB/2026, TBP simpanan rupiah bank umum 3,75% berlaku 1 Juli–30 September 2026. lps.go.id (PDF). Diperiksa 14 September 2026.
- BRI — suku bunga deposito rupiah, pembaruan 4 Agustus 2026. bri.co.id. Diperiksa 14 September 2026.
- Badan Pusat Statistik — inflasi tahunan nasional dan 150 kabupaten/kota sampai Agustus 2026, WebAPI BPS, diambil 8 September 2026 (inflasi-kota.csv); Bank Indonesia — target inflasi 2,5 ± 1% (bi.go.id).
- Data yang dipakai kalkulator: sbn-ritel.csv, pajak-bunga.csv, lps.csv, deposito-rates.csv — lisensi CC BY 4.0. Cara kami memeriksa angka: Metodologi.
Pertanyaan yang sering ditanya
Bagaimana cara menghitung investasi bulanan untuk mencapai target tertentu?
Berapa imbal hasil yang wajar diisi di kalkulator investasi?
Apa bedanya target dalam rupiah hari ini dan target nominal?
Apakah kupon SBN ritel otomatis berbunga majemuk?
Kenapa setoran awal bulan membuat setoran yang dibutuhkan lebih kecil?
Apakah setoran hasil kalkulator investasi ini pasti cukup?
Ditinjau oleh Deepak Middha
Chartered Accountant dan pemegang Series 65, dengan 18 tahun di industri hedge fund pada akuntansi dana, administrasi investasi, dan pelaporan. Rumus anuitas, penyesuaian inflasi, tarif PPh final, dan data SBN ritel di halaman ini diperiksa terhadap PP 91/2021, PMK 212/PMK.03/2018, halaman DJPPR, dan data BPS.