Investasi berbunga: bunga majemuk, deposito, SBN ritel, pajak, dan penjaminan LPS

Tiga angka menentukan hasil simpanan berbunga: bunga bruto, pajak final (20% untuk deposito, 10% untuk SBN), dan inflasi (rata-rata BPS 3,15%). Deposito dijamin LPS sampai Rp2.000.000.000 per nasabah per bank selama bunganya tidak melebihi TBP 3,75% (bank umum) atau 6,25% (BPR). BI-Rate 5,75%.

Terisi TBP LPS bank umum. PPh final 20%.
Terisi imbalan SR025T5. PPh final 10%.

Halaman ini menjawab ke mana uang yang ingin tetap aman dan berbunga sebaiknya ditempatkan, dan berapa yang benar-benar tersisa setelah pajak dan inflasi. Pembanding di atas menjalankan dana yang sama di deposito dan SBN ritel; bagian di bawahnya menjelaskan aturan pajak, penjaminan LPS, dan cara membaca angka bunga yang diiklankan, dengan setiap angka dirujuk ke peraturan atau lembaga yang menerbitkannya.

BI-Rate5,75%dipertahankan RDG 18–19 Agustus 2026
TBP LPS rupiah3,75% / 6,25%bank umum / BPR, sampai 30 September 2026
Penjaminan LPSRp2 miliarper nasabah per bank
PPh final bunga20% / 10%deposito dan tabungan / SBN dan obligasi

Poin utama

  • Bunga yang diiklankan adalah bunga bruto. Deposito kehilangan seperlima bunganya untuk PPh final, SBN ritel sepersepuluh.
  • Deposito di bank umum hanya dijamin LPS bila bunganya tidak melebihi 3,75%. Bila melebihi, seluruh simpanan itu tidak dijamin, bukan hanya kelebihan bunganya.
  • Pada inflasi rata-rata 12 bulan BPS 3,15%, deposito setinggi TBP menghasilkan imbal hasil riil sedikit di bawah nol.
  • SBN ritel diterbitkan Pemerintah dan tidak termasuk simpanan bank, jadi perlindungannya berbeda dari penjaminan LPS.
  • Bunga yang ikut berbunga selama bertahun-tahun, bukan selisih bunga di awal, yang paling besar pengaruhnya pada saldo akhir.
Data per 14 September 2026

Investasi apa yang dibahas di klaster ini

Kata investasi dipakai untuk hal yang sangat berbeda, dari deposito sampai aset kripto. Klaster ini sengaja sempit: instrumen yang penghasilannya berupa bunga atau imbalan tetap yang bisa dihitung di muka. Itu berarti deposito dan tabungan di bank, serta Surat Berharga Negara ritel yang ditawarkan Pemerintah kepada perorangan, seperti Obligasi Negara Ritel (ORI), Sukuk Ritel (SR), dan Sukuk Tabungan (ST).

Alasannya praktis. Untuk instrumen berbunga, hampir semua angka yang menentukan hasil bisa ditelusuri ke sumber resmi: tarif pajak ada di peraturan pemerintah dan peraturan menteri keuangan, batas penjaminan dan tingkat bunga penjaminan diumumkan LPS, kupon SBN ditetapkan DJPPR Kementerian Keuangan, dan inflasi diterbitkan BPS. Saldo akhirnya bisa dihitung sampai rupiah, dan hitungan itu bisa diperiksa. Instrumen yang harganya naik turun setiap hari punya logika lain dan tidak dibahas di sini.

Pembaca yang sedang memutuskan antara menaruh uang di deposito atau membeli SBN ritel, yang ingin tahu apakah bunga promosi bank digital aman, atau yang ingin menghitung setoran untuk tujuan tertentu akan menemukan alatnya di klaster ini. Semua hitungan berjalan di browser tanpa login dan tanpa meminta nama, nomor rekening, atau identitas apa pun.

Tiga angka yang menentukan hasil investasi berbunga

Setiap produk berbunga bisa diringkas menjadi tiga angka. Bunga bruto adalah persen per tahun yang tertulis di brosur atau halaman bank. Tarif pajak final menentukan berapa bagian bunga itu yang dipotong sebelum sampai ke rekening. Inflasi menentukan berapa banyak barang yang bisa dibeli dengan saldo akhir. Urutan pengurangannya selalu sama, seperti diagram berikut.

Dari bunga yang diiklankan ke daya beliDana ditempatkanRp100.000.000deposito 12 kali ARO bulanan di bunga setinggiTBP 3,75%+Bunga bruto setahun+ Rp3.801.995yang tampil di brosur sebagai persen per tahunPPh final 20%− Rp760.399dipotong bank setiap bunga dibayar=Saldo nominalRp103.041.596imbal hasil bersih 3,04%Inflasi 3,15%− Rp3.150.725rata-rata 12 bulan terakhir, BPS=Daya beli akhir tahunRp99.890.871imbal hasil riil -0,11%
Tiga angka yang sering tertukar: bunga bruto (yang diiklankan), bunga bersih (yang masuk rekening), dan imbal hasil riil (yang menentukan apa yang bisa dibeli). Kalkulator di klaster ini menampilkan ketiganya.

Diagram itu memakai bunga setinggi tingkat bunga penjaminan LPS untuk bank umum. Dari bunga bruto sekitar Rp3,8 juta setahun pada Rp100 juta, pajak memotong sekitar Rp760 ribu, dan inflasi rata-rata dua belas bulan terakhir menghapus sisanya ditambah sedikit lagi. Saldo nominal bertambah Rp3 juta, tetapi daya belinya turun kira-kira Rp109 ribu. Bukan berarti deposito tidak berguna; deposito tetap tempat yang tepat untuk dana yang harus tersedia dalam hitungan bulan. Artinya, deposito bukan alat untuk menambah daya beli dalam jangka panjang pada tingkat bunga saat ini.

Dua istilah lagi sering muncul. Imbal hasil bersih efektif adalah pertumbuhan saldo setahun setelah pajak, dengan bunga yang dikreditkan di dalam tahun itu ikut dihitung. Imbal hasil riil adalah imbal hasil bersih yang sudah dikoreksi inflasi dengan persamaan Fisher: (1 + bersih) ÷ (1 + inflasi) − 1. Kalkulator di klaster ini menampilkan keduanya di samping saldo rupiah.

Bunga majemuk: mesin di balik semua simpanan

Bunga majemuk, atau compound interest, terjadi ketika bunga yang sudah dibayar ikut menghasilkan bunga. Deposito yang diperpanjang otomatis dengan bunga ditambahkan ke pokok berbunga majemuk. Kupon SBN ritel yang dibayar tunai setiap bulan tidak, kecuali pemiliknya menempatkan kembali kupon itu. Perbedaan ini kecil dalam setahun dan besar dalam dua puluh tahun: Rp10 juta pada 6% per tahun menjadi Rp22 juta dengan bunga tunggal, tetapi Rp33,1 juta bila bunganya dikreditkan setiap bulan dan dibiarkan berbunga.

Frekuensi majemuk, apakah bunga dikreditkan harian, bulanan, atau tahunan, pengaruhnya jauh lebih kecil daripada tarif pajak dan lama menabung. Rincian rumus, konversi frekuensi, dan tabel bunga tunggal dibanding majemuk ada di kalkulator bunga majemuk, yang juga menghubungkan proyeksi saldo dengan seri inflasi BPS.

Deposito, tabungan, dan SBN ritel dibandingkan

Tabel berikut merangkum perbedaan yang paling menentukan: pajak atas bunganya, perlindungan yang berlaku, dan seberapa mudah uangnya dicairkan. Semua isian diambil dari berkas data klaster yang juga dipakai kalkulator.

Instrumen berpenghasilan bunga yang dibahas di klaster ini: pajak, perlindungan, dan cara mencairkannya. Angka dibaca dari berkas data klaster.
InstrumenPajak atas bungaPerlindunganLikuiditasDasar
Deposito bank umumPPh final 20% dari bunga bruto; tidak dipotong bila deposito + tabungan ≤ Rp7.500.000LPS sampai Rp2.000.000.000 per nasabah per bank, bila bunga ≤ TBP 3,75%Tenor 1–24 bulan; pencairan sebelum jatuh tempo mengikuti aturan bankPP 131/2000; PMK 212/PMK.03/2018; PENG-5/DSPB/2026
Deposito BPRPPh final 20%, aturan batas yang samaLPS sampai Rp2.000.000.000, bila bunga ≤ TBP BPR 6,25%Mengikuti aturan BPRPMK 212/PMK.03/2018; PENG-6/DSPB/2026
Tabungan dan giroPPh final 20% atas bunga; batas Rp7.500.000 yang samaLPS, syarat 3T yang samaBisa ditarik kapan sajaPMK 212/PMK.03/2018 Pasal 4
Obligasi Negara Ritel (ORI030T3)PPh final 10% atas kuponDiterbitkan Pemerintah; bukan simpanan bank, jadi di luar LPSDapat diperdagangkan di pasar sekunder antarinvestor domestikPP 91/2021; DJPPR
Sukuk Ritel (SR025T3)PPh final 10% atas imbalanDiterbitkan Perusahaan Penerbit SBSN; di luar LPSDapat diperdagangkan setelah minimum holding periodPP 91/2021; DJPPR
Sukuk Tabungan (ST016T2)PPh final 10% atas imbalanDiterbitkan Perusahaan Penerbit SBSN; di luar LPSTidak dapat diperdagangkan; early redemption paling banyak 50%PP 91/2021; DJPPR

Beberapa hal dari tabel itu perlu dibaca lebih teliti. Deposito di BPR punya TBP yang lebih tinggi daripada bank umum, 6,25% dibanding 3,75%, jadi bunga BPR yang tampak tinggi belum tentu di luar penjaminan. SBN ritel tidak dijamin LPS karena bukan simpanan di bank; kewajiban membayar kupon dan pokoknya ada pada penerbitnya, Pemerintah lewat Kementerian Keuangan atau Perusahaan Penerbit SBSN untuk sukuk. Sukuk Tabungan tidak bisa dijual di pasar sekunder, sementara ORI dan SR bisa, dengan harga pasar yang bisa di atas atau di bawah nilai nominal.

Tabel kedua menempatkan Rp100 juta selama lima tahun di empat pilihan nyata yang datanya kami baca. Hanya dua pilihan SBN yang menghasilkan imbal hasil riil positif pada inflasi rata-rata 3,15%.

Rp100 juta selama 5 tahun tanpa setoran tambahan. Deposito 12 bulan diperpanjang ARO tiap tahun; kupon SBN bulanan dianggap diinvestasikan kembali pada tingkat yang sama. Nilai riil memakai inflasi 3,15% per tahun.
Instrumen dan bunga brutoSaldo nominalPajak 5 tahunBersih efektif/tahunNilai riilRiil/tahun
Deposito BRI 12 bulan 2,5%Rp110.408.080Rp2.602.0202%Rp94.529.418-1,12%
Deposito di TBP LPS 3,75%Rp115.927.407Rp3.981.8523%Rp99.254.967-0,15%
SR025T5 6,9%Rp136.301.525Rp4.033.5036,39%Rp116.698.9213,14%
ORI030T6 7%Rp136.913.069Rp4.101.4526,49%Rp117.222.5143,23%

Perbandingan ini menganggap kupon SBN diinvestasikan kembali pada tingkat yang sama dan deposito diperpanjang pada bunga yang sama. Keduanya penyederhanaan: bunga deposito berganti mengikuti keputusan bank, dan imbalan SBN seri berikutnya ditetapkan saat seri itu terbit. Yang tidak berubah adalah selisih tarif pajak dan batas penjaminan, dan dua hal itu yang membuat urutan hasilnya bertahan di banyak skenario.

Pajak atas bunga investasi: 20% atau 10% final

Bunga deposito, tabungan, dan giro yang diterima orang pribadi dalam negeri dikenai PPh final 20% dari jumlah bruto menurut PP 131/2000 Pasal 2 huruf a, yang tata cara pemotongannya diatur PMK 212/PMK.03/2018 Pasal 5 ayat (1) huruf c. Bank yang membayar bunga wajib memotongnya (Pasal 8). Bunga obligasi, yang menurut PP 91/2021 Pasal 1 mencakup Surat Berharga Negara dan imbalan sukuk, dikenai PPh final 10% (Pasal 2).

Kata final punya dua akibat. Bunga itu tidak dijumlahkan dengan gaji atau penghasilan lain yang dikenai tarif progresif di SPT Tahunan, dan pajak yang sudah dipotong tidak dapat dikreditkan. Ada juga pengecualian yang sering disalahpahami: pemotongan tidak dilakukan bila jumlah deposito dan tabungan tidak melebihi Rp7.500.000 (PMK 212/PMK.03/2018 Pasal 7 huruf a), dan penjelasan PP 131/2000 menambahkan bahwa jumlah itu bukan hasil memecah-mecah simpanan. Orang pribadi yang seluruh penghasilannya setahun tidak melebihi penghasilan tidak kena pajak boleh meminta kembali pajak yang sudah dipotong (PMK 212/PMK.03/2018 Pasal 2 ayat (3) dan (4)).

Pajak apa yang berlaku atas bunga yang kamu terimaDari mana bunganya?orang pribadi dalam negeriSBN/obligasi/sukukfinal 10% (PP 91/2021)Deposito, tabungan, girolanjut ke bawahDananya dari devisa hasil ekspor?deposito DHE di bank dalamnegeriYa, DHEtarif 0%–10% per tenorTidaklanjut ke bawahDeposito + tabungan ≤ Rp7.500.000?jumlah di bank itu, bukandipecah-pecahYatidak dipotongTidakdipotong final 20%=Penghasilan setahun ≤ PTKP?termasuk bungaYaboleh minta kembaliTidakpajak final selesai
Dasar: PP 131/2000 Pasal 2 dan 3, PMK 212/PMK.03/2018 Pasal 2 ayat (3)–(4), Pasal 5, dan Pasal 7 huruf a, serta PP 91/2021 Pasal 2. Pajak final tidak digabung dengan penghasilan lain di SPT dan tidak dapat dikreditkan.

Cabang devisa hasil ekspor di diagram hanya relevan bagi eksportir: deposito dari DHE memakai tarif final khusus antara 0% dan 10% tergantung mata uang dan tenornya. Contoh angka pemotongan pada berbagai saldo dan tabel tarif DHE lengkap ada di halaman cara menghitung bunga deposito.

Penjaminan LPS: Rp2 miliar dan syarat 3T

Lembaga Penjamin Simpanan menjamin tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk simpanan lain yang dipersamakan, di bank umum maupun BPR, konvensional maupun syariah. Nilai yang dijamin paling tinggi Rp2 miliar per nasabah per bank sejak 13 Oktober 2008, mencakup pokok ditambah bunga yang sudah menjadi hak nasabah. Saldo semua rekening seorang nasabah di satu bank dijumlahkan, dan saldo rekening gabungan dibagi rata di antara pemiliknya.

Batas nilai itu baru separuh cerita. LPS menyebut tiga syarat yang dikenal sebagai 3T: simpanan tercatat dalam pembukuan bank, nasabah tidak menerima bunga melebihi tingkat bunga penjaminan, dan nasabah tidak melakukan tindakan melanggar hukum yang merugikan bank. Syarat kedua yang paling sering terlanggar tanpa disadari. FAQ LPS menegaskan bahwa simpanan dengan bunga di atas TBP tidak dijamin secara keseluruhan, pokok maupun bunga, bukan hanya kelebihan bunganya.

Untuk periode 1 Juli sampai 30 September 2026, TBP simpanan rupiah ditetapkan 3,75% untuk bank umum dan 6,25% untuk BPR, masing-masing lewat Pengumuman LPS PENG-5/DSPB/2026 dan PENG-6/DSPB/2026. TBP valuta asing di bank umum 2,00%. LPS mengevaluasi TBP setiap bulan dan dapat mengubahnya di luar jadwal biasa, jadi angka ini perlu dicek ulang setelah 30 September 2026. Pengumuman yang sama meminta bank memberi tahu nasabah bila bunga yang diberikan melebihi TBP.

Dalam tabel bunga yang kami baca dari situs bank, setiap bank digital dan beberapa bank swasta punya setidaknya satu tier atau tenor di atas 3,75%. Itu tidak berarti banknya bermasalah; artinya simpanan dengan bunga itu berada di luar penjaminan LPS selama TBP 3,75% berlaku, dan keputusan menerimanya perlu dibuat dengan sadar.

BI-Rate, TBP, dan bunga deposito

BI-Rate adalah suku bunga kebijakan Bank Indonesia. Rapat Dewan Gubernur 18–19 Agustus 2026 mempertahankannya di 5,75%, dengan suku bunga Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,50%. Keputusan itu langsung terasa pada Sukuk Tabungan, yang imbalannya mengambang dengan acuan BI-Rate. Bunga deposito, sebaliknya, ditetapkan masing-masing bank dan tidak wajib bergerak pada hari yang sama, sementara TBP ditetapkan tersendiri oleh LPS.

BI-Rate hasil RDG Bank Indonesia dan TBP LPS bank umumBI-RateTBP LPS bank umum (sejak 1 Juli 2026)3%3,5%4%4,5%5%5,5%6%6,5%Des 25Feb 26Mei 26Jul 26Sep 26tanggal
BI-Rate dari tabel Bank Indonesia (10 keputusan RDG, 17 Desember 2025 sampai 19 Agustus 2026). TBP LPS 3,75% berlaku 1 Juli sampai 30 September 2026 menurut PENG-5/DSPB/2026; TBP periode sebelumnya tidak kami gambar karena belum kami baca dokumennya.

Grafik itu memperlihatkan BI-Rate naik dari 4,75% ke 5,75% antara Mei dan Juni 2026, lalu bertahan. Imbalan ST016T2 dan ST016T4 untuk periode 11 Agustus sampai 10 November 2026 mengikutinya menjadi 7,05% dan 7,25%, sesuai rumus BI-Rate ditambah 130 dan 150 basis poin. TBP bank umum naik 25 basis poin menjadi 3,75% mulai Juli. Bunga deposito bank besar yang kami baca, antara 2,25% dan 3,00%, banyak yang bertanggal sebelum kenaikan itu dan belum tentu sudah menyesuaikan.

Contoh: Rp50 juta selama lima tahun di tiga tempat

Contoh ini sama dengan isian bawaan pembanding di atas, supaya angkanya bisa dicocokkan langsung.

Rp50.000.000 selama 5 tahun, bunga dikreditkan dan ditempatkan kembali setiap bulan, inflasi 3,15% per tahun.

  1. Deposito di bank umum pada 3,75%, PPh final 20%: tarif bersih 3,75% × 0,8 ÷ 12 = 0,25% per bulan. Saldo akhir Rp58.080.839, pajak lima tahun Rp2.020.210, imbal hasil bersih 3,04% setahun.
  2. SBN ritel pada 6,90%, PPh final 10%: tarif bersih 0,5175% per bulan. Saldo akhir Rp68.150.763, pajak Rp2.016.751, imbal hasil bersih 6,39% setahun.
  3. Selisih saldo akhir Rp10.069.923 untuk SBN, walaupun pajak yang dibayar hampir sama. Tarif SBN separuh tarif deposito, tetapi bunga brutonya hampir dua kali lipat.
  4. Nilai riil deposito: Rp58.080.839 ÷ 1,03155 = Rp49.727.773, di bawah dana awal. Nilai riil SBN: Rp58.349.461.
  5. Deposito di BRI 12 bulan pada 2,50% dengan cara yang sama berakhir di Rp55.253.946, setara Rp47.307.438 hari ini.

Pertanyaan yang tersisa setelah contoh ini bukan "mana yang lebih besar", tetapi "uang ini dibutuhkan kapan". Dana yang mungkin diambil bulan depan tidak cocok ditaruh di Sukuk Tabungan yang hanya bisa dicairkan sebagian pada jendela early redemption. Dana untuk lima tahun lagi tidak perlu dibiarkan di deposito satu bulan yang diperpanjang terus dengan imbal hasil riil negatif.

Alat di klaster investasi dan kapan memakainya

Kalkulator bunga majemuk

Kalkulator bunga majemuk (compound interest) untuk pertanyaan "uang ini menjadi berapa": modal awal, setoran rutin di awal atau akhir periode, kenaikan setoran tahunan, frekuensi majemuk dari harian sampai tahunan, pajak final per instrumen, dan nilai riil dari inflasi nasional atau kota. Hasilnya dilengkapi rumus dengan angkamu dan rincian per bulan.

Kalkulator investasi berbasis target

Kalkulator investasi untuk pertanyaan sebaliknya: "berapa yang harus disetor setiap bulan". Target bisa dinyatakan dalam harga hari ini, preset instrumen mengisi imbalan SBN ritel atau bunga deposito dari data resmi, dan tabel pembanding memperlihatkan setoran yang dibutuhkan di instrumen lain.

Kalkulator deposito

Kalkulator deposito untuk simulasi per tenor: bunga bersih setelah PPh 20% dengan pengecualian Rp7,5 juta yang memperhitungkan tabungan lain di bank yang sama, tiga cara menghitung hari, perpanjangan ARO, dan pemeriksaan TBP serta batas Rp2 miliar LPS.

Cara menghitung bunga deposito dan tabel bunga bank

Halaman bunga deposito menjelaskan rumus dan aturan pajaknya pasal demi pasal, dan memuat tabel suku bunga yang bisa diurutkan dari situs masing-masing bank, dengan tanggal di halaman bank dan status terhadap TBP. Setiap bank di tabel itu sudah punya slug sendiri di berkas data, sehingga halaman per bank bisa ditambahkan tanpa mengubah alamat yang sudah ada.

Daftar periksa sebelum menempatkan dana di deposito atau SBN

  1. Tentukan kapan uangnya dibutuhkan. Tenor deposito dan periode early redemption SBN harus cocok dengan tanggal itu, bukan sebaliknya.
  2. Bandingkan bunga bersih, bukan bunga bruto. Kalikan bunga deposito dengan 0,8 dan kupon SBN dengan 0,9 sebelum membandingkan.
  3. Cocokkan bunga deposito dengan TBP yang berlaku. Di bank umum 3,75% dan di BPR 6,25% sampai 30 September 2026; cek pengumuman LPS terbaru setelah itu.
  4. Jumlahkan saldo per bank. Penjaminan Rp2 miliar dihitung per nasabah per bank, termasuk bunga yang sudah menjadi hak nasabah.
  5. Pastikan bank terdaftar sebagai peserta penjaminan dan simpananmu tercatat atas namamu, dengan bukti transaksi yang disimpan.
  6. Baca ketentuan pencairan. Penalti pencairan deposito sebelum jatuh tempo ditetapkan tiap bank; ketentuan SBN ada di memorandum informasi serinya.
  7. Hitung nilai riilnya. Imbal hasil bersih di bawah inflasi berarti daya beli menyusut walaupun saldo bertambah.

Klaster ini tidak membahas saham, reksa dana, emas, atau aset kripto, karena penghasilannya bukan bunga yang bisa ditetapkan di muka. Hubungan antara bunga simpanan dan cicilan kredit bisa dilihat di simulasi KPR, dan kurs yang dipakai untuk simpanan valuta asing dalam perhitungan pajak ada di kurs pajak.

Sumber dan dasar hukum

Pertanyaan yang sering ditanya

Lebih untung deposito atau SBN ritel?
Pada data September 2026, SBN ritel memberi imbal hasil bersih lebih tinggi: imbalan SR025T5 6,90% dipotong pajak 10%, sedangkan deposito yang dijamin LPS paling tinggi 3,75% dipotong 20%. Deposito unggul pada kemudahan pencairan dan tenor pendek. Pilihannya bergantung pada kapan uang dibutuhkan, bukan hanya pada angka bunga. Pembanding di atas menghitung selisihnya untuk dana dan jangka waktumu.
Apakah SBN ritel dijamin LPS?
Tidak. LPS menjamin simpanan di bank, seperti tabungan, giro, dan deposito. SBN ritel adalah surat utang atau sukuk yang diterbitkan Pemerintah melalui Kementerian Keuangan atau Perusahaan Penerbit SBSN, sehingga pembayaran kupon dan pokoknya menjadi kewajiban penerbit itu. Membeli SBN lewat bank sebagai mitra distribusi tidak mengubahnya menjadi simpanan bank.
Berapa bunga deposito maksimal agar tetap dijamin LPS?
Untuk periode 1 Juli sampai 30 September 2026, bunga simpanan rupiah paling tinggi 3,75% per tahun di bank umum dan 6,25% di BPR, menurut Pengumuman LPS PENG-5/DSPB/2026 dan PENG-6/DSPB/2026. Simpanan valuta asing di bank umum 2,00%. LPS mengevaluasi angka ini setiap bulan, jadi periksa pengumuman terbaru di situs LPS setelah akhir September.
Kalau bunga deposito saya di atas TBP, apa yang tidak dijamin?
Seluruh simpanan itu, pokok maupun bunganya, bukan hanya selisih bunganya. FAQ LPS menyatakan nasabah yang menerima bunga melebihi tingkat bunga penjaminan termasuk pihak yang simpanannya tidak layak bayar. Karena itu bunga promosi 5% atau 7% di bank umum berarti menerima risiko kehilangan penjaminan selama TBP masih 3,75%.
Apakah bunga deposito dan kupon SBN dihitung lagi pajaknya di SPT Tahunan?
Keduanya dikenai PPh final yang dipotong saat bunga atau kupon dibayar. Penjelasan PP 131/2000 menyebut bunga deposito dan tabungan tidak perlu digabung dengan penghasilan lain dalam menghitung PPh terutang di SPT Tahunan, dan pajak yang sudah dipotong tidak dapat dikreditkan. Bunga SBN diperlakukan sama karena PP 91/2021 juga menetapkannya final. Keduanya tidak dihitung ulang dengan tarif progresif.
Kenapa BI-Rate naik tetapi bunga deposito bank saya tetap?
Bank menetapkan bunga depositonya sendiri dan tidak wajib mengikuti BI-Rate pada hari yang sama. Beberapa halaman bunga bank yang kami baca bertanggal jauh sebelum kenaikan BI-Rate Mei dan Juni 2026. Bunga deposito ARO berganti pada tanggal perpanjangan mengikuti bunga yang berlaku saat itu, jadi kenaikan baru terasa di perpanjangan berikutnya, bila bank menaikkannya.
Apakah imbal hasil riil negatif berarti uang saya berkurang?
Jumlah rupiahnya tidak berkurang; yang berkurang adalah barang yang bisa dibeli dengan uang itu. Pada deposito 3,75% setelah pajak dan inflasi 3,15%, saldo Rp100 juta bertambah sekitar Rp3 juta setahun, tetapi harga barang naik lebih cepat dari itu. Untuk dana yang dibutuhkan dalam beberapa bulan hal ini wajar; untuk dana bertahun-tahun, kerugian daya beli menumpuk.
Apakah angka di halaman investasi ini berlaku untuk semua orang?
Angka tarif berlaku untuk orang pribadi wajib pajak dalam negeri; wajib pajak luar negeri, dana pensiun, dan eksportir dengan dana DHE punya ketentuan berbeda. Hasil simulasi bergantung pada asumsi bunga dan inflasi yang bisa berubah. Kondisi pribadi seperti kebutuhan dana darurat atau utang berbunga tinggi juga menentukan pilihan yang masuk akal bagimu.

Ditinjau oleh Deepak Middha

Chartered Accountant dan pemegang Series 65, dengan 18 tahun di industri hedge fund pada akuntansi dana, administrasi investasi, dan pelaporan. Tarif pajak bunga, ketentuan penjaminan LPS, data SBN ritel, dan angka inflasi di halaman ini diperiksa terhadap teks PP 131/2000, PMK 212/PMK.03/2018, PP 91/2021, pengumuman LPS, halaman DJPPR, dan data BPS.

Profil peninjau → · Cara kami memeriksa angka →

Halaman terkait