Kalkulator bunga majemuk (compound interest): hitung compounding setelah pajak dan inflasi

Bunga majemuk (compound interest) = saldo × (1 + i)N, dengan i tarif bersih per periode setelah pajak. Bunga deposito dipotong PPh final 20% dan kupon SBN 10%, jadi deposito 3,75% hanya tumbuh 3,04% setahun — di bawah inflasi rata-rata BPS 3,15%.

Isi 0 bila hanya menaruh modal sekali.
Bunga bruto sebelum pajak, seperti yang tertulis di brosur.
Misalnya 5 bila setoran naik mengikuti kenaikan gaji.

Kalkulator ini menjawab berapa saldo tabungan atau investasimu setelah bunga ikut berbunga, berapa yang hilang untuk pajak final, dan berapa daya beli saldo itu dalam rupiah hari ini. Inflasi diambil dari seri resmi Badan Pusat Statistik, bukan angka yang kamu tebak, dan semua hitungan berjalan di browsermu tanpa login.

PPh bunga deposito20% finalPMK 212/PMK.03/2018 Pasal 5
PPh bunga SBN10% finalPP 91/2021 Pasal 2
Inflasi BPS Agustus 20263,19%rata-rata 12 bulan 3,15%
Target inflasi BI2,5 ± 1%untuk 2026, bi.go.id

Poin utama

  • Bunga majemuk dan compound interest adalah hal yang sama: bunga yang sudah dikreditkan ikut menghasilkan bunga pada periode berikutnya.
  • Pada Rp10 juta dan 6% per tahun selama 5 tahun, compounding bulanan menghasilkan Rp488.502 lebih banyak daripada bunga tunggal.
  • Pajak final dipotong setiap kali bunga dibayar, jadi yang berbunga adalah bunga bersih, bukan bunga bruto di brosur.
  • Bunga deposito 3,75% setelah PPh 20% memberi 3,04% setahun, di bawah inflasi rata-rata 3,15%: saldonya naik, daya belinya turun.
  • Frekuensi majemuk lebih kecil pengaruhnya daripada pajak dan lama menabung.
Data per 14 September 2026

Cara memakai kalkulator compound interest ini

Isian di atas dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah uangnya: modal awal yang ditaruh sekali, setoran rutin, seberapa sering setoran dilakukan, dan apakah setoran masuk di awal atau di akhir periode. Kelompok kedua adalah pertumbuhannya: bunga atau imbal hasil per tahun, frekuensi majemuk, dan kenaikan setoran per tahun. Kelompok ketiga adalah pengurangnya: pajak atas bunga dan asumsi inflasi.

Hasilnya muncul begitu angka diubah. Kotak utama menampilkan saldo akhir, lalu empat kartu memisahkan total setoran, bunga bersih, imbal hasil bersih efektif per tahun, dan imbal hasil riil. Di bawahnya ada grafik saldo, rumus dengan angkamu sendiri, dan tabel rincian yang bisa diganti antara per tahun dan per bulan. Tabel per bulan berguna untuk mencocokkan hasil dengan mutasi rekening, karena setiap baris memperlihatkan bunga bruto, pajak, dan bunga bersih bulan itu.

Setoran di awal atau di akhir periode

Setoran di awal bulan langsung ikut berbunga pada bulan yang sama; setoran di akhir bulan baru berbunga bulan berikutnya. Pilih awal periode bila kamu menyisihkan uang segera setelah gajian dan menaruhnya di instrumen yang langsung berbunga. Pilih akhir periode bila setoran menunggu sampai sisa uang bulanan diketahui, atau bila produknya baru mulai berbunga setelah dana mengendap. Untuk setoran tahunan, awal periode berarti bulan pertama setiap tahun dan akhir periode berarti bulan kedua belas.

Kenaikan setoran per tahun

Kolom ini menaikkan setoran setiap dua belas bulan dengan persen yang sama. Setoran tahun kedua adalah setoran awal dikali (1 + kenaikan), tahun ketiga dikali (1 + kenaikan)², dan seterusnya. Fitur ini meniru kebiasaan menaikkan tabungan mengikuti kenaikan gaji. Karena setoran yang naik tidak lagi berupa anuitas tetap, kalkulator beralih dari rumus tertutup ke hitungan bulan demi bulan dan menyebutkannya di bagian rumus.

Cara menghitung bunga: bunga tunggal dan bunga majemuk

Ada dua cara menghitung bunga. Bunga tunggal selalu dihitung dari pokok awal, sehingga bunga tahun kesepuluh sama besar dengan bunga tahun pertama. Bunga majemuk dihitung dari saldo yang sudah memuat bunga sebelumnya. Istilah Inggrisnya compound interest, dan proses bunga ditambahkan ke pokok disebut compounding. Kalkulator ini memakai bunga majemuk karena begitulah saldo tumbuh bila bunga tidak ditarik.

Bunga tunggal = P × r × t
Bunga majemuk tanpa setoran: FV = P × (1 + r/n)n×t
Dengan setoran rutin akhir bulan: FV = P × (1 + i)N + PMT × [(1 + i)N − 1] ÷ i
i = tarif bersih per bulan, N = jumlah bulan

P adalah modal awal, r bunga per tahun dalam bentuk desimal, n jumlah kali bunga dikreditkan setahun, t jumlah tahun, dan PMT setoran rutin. Bila setoran dilakukan di awal bulan, suku setoran dikali satu kali lagi dengan (1 + i). Tabel berikut memperlihatkan jarak antara kedua cara hitung pada modal yang sama.

Rp10 juta pada 6% per tahun tanpa setoran tambahan dan tanpa pajak: bunga tunggal dibanding bunga majemuk tahunan dan bulanan.
TahunBunga tunggalMajemuk tahunanMajemuk bulananSelisih bulanan vs tunggal
1Rp10.600.000Rp10.600.000Rp10.616.778Rp16.778
3Rp11.800.000Rp11.910.160Rp11.966.805Rp166.805
5Rp13.000.000Rp13.382.256Rp13.488.502Rp488.502
10Rp16.000.000Rp17.908.477Rp18.193.967Rp2.193.967
20Rp22.000.000Rp32.071.355Rp33.102.045Rp11.102.045
30Rp28.000.000Rp57.434.912Rp60.225.752Rp32.225.752

Pada lima tahun pertama selisihnya kecil. Setelah dua puluh tahun, bunga majemuk bulanan hampir dua kali lipat bunga tunggal, karena bagian "bunga atas bunga" terus membesar. Itulah alasan lama menabung lebih menentukan daripada selisih setengah persen bunga di awal.

Mengubah frekuensi majemuk menjadi tarif bulanan

Kalkulator menghitung saldo bulan demi bulan. Bila bunga dikreditkan triwulanan atau tahunan, tarifnya diubah menjadi tarif bulanan yang setara: i = (1 + r/n)n/12 − 1. Dengan cara ini setoran bulanan bisa digabung dengan compounding tahunan tanpa membulatkan periode. Untuk compounding bulanan rumus ini sama persis dengan r ÷ 12. Untuk compounding harian, satu bulan dihitung sebagai seperdua belas tahun, bukan jumlah hari kalender bulan itu.

Contoh hitung compounding langkah demi langkah

Ketiga contoh dihitung dengan mesin yang sama dengan kalkulator di atas. Angka rupiah dibulatkan ke rupiah terdekat hanya saat ditulis.

Contoh 1 — modal sekali, tanpa pajak. Rp10.000.000 pada 6% per tahun, majemuk bulanan, selama 5 tahun.

  1. Tarif per bulan: 6% ÷ 12 = 0,5%. Jumlah periode: 5 × 12 = 60 bulan.
  2. Faktor pertumbuhan: (1 + 0,005)60 = 1,34885.
  3. Saldo akhir: Rp10.000.000 × 1,34885 = Rp13.488.502.
  4. Bunga yang terkumpul Rp3.488.502. Dengan bunga tunggal hasilnya Rp10.000.000 × 6% × 5 = Rp3.000.000, jadi Rp488.502 adalah bunga atas bunga.
  5. Saldo akhir tahun pertama Rp10.616.778, bukan Rp10.600.000, karena bunga bulanan sudah ikut berbunga di dalam tahun itu. Imbal hasil efektifnya 6,17% setahun.

Contoh 2 — setoran bulanan dengan PPh bunga deposito dan batas Rp7,5 juta. Modal Rp5.000.000, setoran Rp1.000.000 di akhir setiap bulan, bunga 4,25% per tahun majemuk bulanan, 10 tahun, pajak final 20%.

  1. Bulan 1: saldo Rp5.000.000 belum melebihi Rp7.500.000, jadi bunganya tidak dipotong. Bunga = Rp5.000.000 × 4,25% ÷ 12 = Rp17.708. Setelah setoran, saldo Rp6.017.708.
  2. Bulan 2: bunga Rp6.017.708 × 0,354167% = Rp21.313, saldo Rp7.039.021. Bulan 3 masih di bawah batas: bunga Rp24.930, saldo Rp8.063.951.
  3. Mulai bulan 4 saldo di atas batas. Tarif bersih menjadi 4,25% × (1 − 20%) ÷ 12 = 0,283333% per bulan.
  4. Setelah 120 bulan: total setoran Rp125.000.000, bunga bruto Rp30.888.463, pajak Rp6.164.902, saldo akhir Rp149.723.561.
  5. Tanpa pengecualian Rp7,5 juta saldo akhirnya Rp149.705.707. Pengecualian itu hanya bernilai Rp17.854 di sini, karena berlaku pada tiga bulan pertama saja.
  6. Dengan inflasi rata-rata 12 bulan BPS 3,15%, saldo itu setara Rp109.754.516 hari ini. Imbal hasil bersihnya 3,45% setahun, riilnya 0,29%.

Contoh 3 — setoran yang naik tiap tahun dengan tarif pajak SBN. Setoran Rp2.000.000 di awal bulan, naik 5% setiap tahun, 15 tahun, imbal hasil 6,90% per tahun (sama dengan imbalan tetap SR025T5), majemuk bulanan, PPh final 10%.

  1. Tarif bersih per bulan: 6,90% × (1 − 10%) ÷ 12 = 0,5175%.
  2. Setoran tahun pertama Rp2.000.000 per bulan; tahun ke-15 menjadi Rp2.000.000 × 1,0514 = Rp3.959.863 per bulan.
  3. Total setoran 15 tahun Rp517.885.526. Saldo akhir Rp809.597.417, terdiri dari bunga bersih Rp291.711.891 setelah pajak Rp32.412.432.
  4. Tanpa kenaikan setoran, total setoran hanya Rp360.000.000 dan saldo akhirnya Rp595.228.371.
  5. Nilai riil dengan inflasi 3,15%: Rp508.121.404. Imbal hasil riilnya 3,14% setahun.

SR025T5 bertenor 5 tahun dan imbalannya dibayar tunai setiap bulan. Contoh ini hanya meminjam tingkat imbalannya sebagai asumsi dan menganggap imbalan itu diinvestasikan kembali pada tingkat yang sama.

Diagram berikut membongkar satu putaran compounding dari contoh di grafik bagian inflasi: modal Rp10 juta, setoran Rp1 juta, bunga 6%, pajak final 10%.

Satu putaran bunga majemukSaldo awal bulan 1Rp10.000.000modal awal+Bunga bruto bulan 1+ Rp50.000saldo × 6% ÷ 12PPh final 10%− Rp5.000dipotong saat bunga dikreditkan+Setoran akhir bulan+ Rp1.000.000setoran di awal bulan ikut berbunga bulan itu=Saldo akhir bulan 1Rp11.045.000menjadi dasar bunga bulan 2ulangi setiap bulan=Bunga bersih bulan 2+ Rp49.702lebih besar Rp4.702 dari bulan 1 karena bungabulan 1 ikut berbunga
Angka dari contoh di grafik: modal Rp10 juta, setoran Rp1 juta di akhir bulan, bunga 6% per tahun majemuk bulanan, PPh final 10%. Tanda + uang masuk, − uang keluar, = posisi.

Harian, bulanan, atau tahunan: pengaruh frekuensi compounding

Semakin sering bunga dikreditkan, semakin cepat bunga ikut berbunga. Bunga nominal 6% yang dikreditkan setahun sekali memberi 6% efektif; yang dikreditkan setiap bulan memberi 6,168%; yang dikreditkan setiap hari 6,183%. Selisihnya nyata tetapi kecil, dan tabel berikut memperlihatkan seberapa kecil dibanding pajak.

Rp100 juta pada bunga nominal 6% per tahun selama 10 tahun menurut frekuensi majemuk, tanpa pajak dan setelah PPh final 20% yang dipotong setiap kali bunga dikreditkan.
FrekuensiEfektif setahunSaldo tanpa pajakEfektif setelah PPh 20%Saldo setelah PPh 20%
Tahunan (1× setahun)6%Rp179.084.7704,8%Rp159.813.266
Semesteran (2× setahun)6,09%Rp180.611.1234,858%Rp160.693.804
Triwulanan (4× setahun)6,136%Rp181.401.8414,887%Rp161.146.360
Bulanan (12× setahun)6,168%Rp181.939.6734,907%Rp161.452.784
Harian (365× setahun)6,183%Rp182.202.8954,917%Rp161.602.340

Beralih dari majemuk bulanan ke harian menambah Rp263.222 pada Rp100 juta selama sepuluh tahun. PPh final 20% mengurangi saldo yang sama sekitar Rp20,5 juta. Bila kamu harus memilih antara produk dengan compounding harian dan produk dengan pajak lebih ringan pada bunga yang sama, pajaklah yang menentukan.

Ada satu hal lagi yang sering luput. Frekuensi majemuk hanya berarti bila bunga benar-benar ditambahkan ke saldo. Deposito dengan pilihan bunga ditransfer ke tabungan tidak berbunga majemuk di dalam deposito itu sendiri, dan kupon SBN ritel dibayar tunai ke rekening. Keduanya baru menjadi majemuk bila kamu sendiri menempatkan kembali bunganya.

Pajak atas bunga yang ikut dihitung

Pilihan pajak di kalkulator mengikuti instrumennya, bukan satu kotak persen kosong. Bunga deposito, tabungan, dan giro dikenai PPh final 20% dari jumlah bruto menurut PP 131/2000 Pasal 2 dan PMK 212/PMK.03/2018 Pasal 5 ayat (1) huruf c. Pemotongan tidak dilakukan bila jumlah deposito dan tabungan tidak melebihi Rp7.500.000 (PMK 212/PMK.03/2018 Pasal 7 huruf a), dan kalkulator menerapkan batas itu pada saldo setiap bulan. Bunga obligasi, termasuk kupon Surat Berharga Negara dan imbalan sukuk, dikenai PPh final 10% menurut PP 91/2021 Pasal 2.

Pajak dikenakan setiap kali bunga dikreditkan, jadi yang ikut berbunga adalah bunga bersih. Kalkulator menulis bunga bruto sebagai bunga bersih ÷ (1 − tarif), sehingga pajak di setiap baris tabel tepat sama dengan tarif dikali bunga bruto. Karena pajaknya final, bunga ini tidak digabung dengan penghasilan lain di SPT Tahunan dan pajak yang sudah dipotong tidak bisa dikreditkan. Penjelasan lengkap tentang batas Rp7,5 juta, pengembalian pajak bagi yang penghasilannya di bawah PTKP, dan tarif khusus deposito devisa hasil ekspor ada di halaman cara menghitung bunga deposito.

Nilai riil: menghubungkan compounding dengan inflasi BPS

Saldo Rp150 juta sepuluh tahun lagi tidak membeli sebanyak Rp150 juta hari ini. Kalkulator ini membagi setiap saldo dengan (1 + inflasi)tahun untuk mendapatkan nilai riil, yaitu daya beli saldo itu dinyatakan dalam rupiah hari ini. Inflasinya dibaca dari berkas seri inflasi tahunan nasional BPS yang juga dipakai halaman inflasi Indonesia, jadi angka di kalkulator ikut berganti setiap kali data BPS diperbarui.

Inflasi tahunan nasional (y-o-y) menurut BPSInflasi y-o-yTarget BI 2,5%-1%0%1%2%3%4%5%Jan 24Sep 24Mei 25Des 25Agu 26bulan
Seri inflasi y-o-y nasional dari berkas yang sama dengan halaman inflasi Indonesia (BPS WebAPI, diambil 8 September 2026). Kalkulator memakai rata-rata 12 bulan terakhir, 3,15%, sebagai asumsi bawaan: angka satu bulan bisa melonjak atau jatuh karena harga pangan dan tarif yang diatur pemerintah.

Pilihan bawaannya rata-rata dua belas bulan terakhir. Angka satu bulan bisa terangkat oleh harga pangan atau penyesuaian tarif, sedangkan rata-rata setahun meredam lonjakan itu. Kamu juga bisa memilih inflasi bulan terakhir, rata-rata seluruh seri, titik tengah target Bank Indonesia, inflasi tahunan kota atau kabupatenmu dari 150 daerah yang diukur BPS, atau angka sendiri.

Asumsi inflasi yang bisa dipilih di kalkulator, dari seri inflasi nasional BPS (32 bulan) dan target Bank Indonesia. Kolom bunga bruto impas adalah bunga sebelum pajak yang dibutuhkan agar saldo tidak kehilangan daya beli.
AsumsiInflasi per tahunDaya beli Rp100 juta setelah 10 tahunBunga deposito impas (PPh 20%)Kupon SBN impas (PPh 10%)
Inflasi tahunan terbaru BPS (Agustus 2026)3,19%Rp73.050.6153,99%3,54%
Rata-rata 12 bulan terakhir (September 2025–Agustus 2026)3,15%Rp73.304.7733,94%3,5%
Rata-rata 32 bulan (Januari 2024–Agustus 2026)2,42%Rp78.768.2243,02%2,68%
Titik tengah target inflasi Bank Indonesia2,5%Rp78.119.8403,13%2,78%
Inflasi tahunan tertinggi dalam seri4,76%Rp62.812.3595,95%5,29%

Kolom bunga impas di tabel itu menjawab pertanyaan yang lebih praktis daripada nilai riil: berapa bunga bruto minimum agar uangmu tidak menyusut setelah pajak. Rumusnya inflasi ÷ (1 − tarif pajak). Pada inflasi 3,15%, deposito perlu berbunga 3,94% sebelum pajak hanya untuk bertahan, di atas tingkat bunga penjaminan LPS bank umum 3,75%.

Imbal hasil riil dihitung dengan persamaan Fisher, bukan dengan mengurangkan inflasi begitu saja: riil = (1 + imbal hasil bersih) ÷ (1 + inflasi) − 1. Pada imbal hasil bersih 5% dan inflasi 3%, hasilnya 1,94%, bukan 2%. Selisihnya kecil untuk angka rendah dan membesar ketika inflasi tinggi.

Rp10 juta + Rp1 juta per bulan, 6%, 10 tahun: nominal vs riilSaldo nominalTotal setoranNilai riil (rupiah hari ini)Rp0Rp50 jtRp100 jtRp150 jtRp200 jt0246810tahun ke-
Asumsi: bunga 6% per tahun majemuk bulanan, PPh final 10% seperti kupon SBN yang diinvestasikan kembali, setoran di akhir bulan, inflasi 3,15% per tahun (rata-rata 12 bulan terakhir seri BPS). Arsir di antara saldo dan total setoran adalah bunga bersih: Rp45.790.273. Setelah dibagi inflasi, saldo Rp175.790.273 setara Rp128.862.660 hari ini.

Aturan 72 untuk memeriksa hasil compounding

Sebelum mempercayai angka dari kalkulator mana pun, periksa dengan aturan 72: bagi 72 dengan imbal hasil efektif tahunan untuk mendapat perkiraan jumlah tahun sampai uang berlipat dua. Pada 6% hasilnya 12 tahun, dan saldo Rp100 juta pada tabel frekuensi memang mendekati Rp200 juta menjelang tahun kedua belas. Bila kalkulator lain menunjukkan uang berlipat dua dalam enam tahun pada bunga yang sama, ada yang salah di sana.

Aturan 72 dibanding waktu berlipat dua yang tepat, untuk imbal hasil efektif tahunan (sudah setelah pajak bila dipotong).
Imbal hasil efektifAturan 72Tepat: ln 2 ÷ ln(1 + r)Selisih
2,5%28,8 tahun28,07 tahun0,73 tahun
3,75%19,2 tahun18,83 tahun0,37 tahun
4,5%16 tahun15,75 tahun0,25 tahun
6%12 tahun11,9 tahun0,1 tahun
7%10,3 tahun10,24 tahun0,04 tahun
10%7,2 tahun7,27 tahun-0,07 tahun
12%6 tahun6,12 tahun-0,12 tahun

Pakai imbal hasil bersih, bukan bunga di brosur. Deposito 3,75% setelah pajak 20% memberi sekitar 3% efektif, sehingga aturan 72 menunjuk 24 tahun, bukan 19 tahun. Kalkulator di atas menampilkan kedua angka itu, perkiraan aturan 72 dan hitungan tepatnya, di bawah kartu hasil.

Kesalahan yang paling sering saat menghitung bunga majemuk

  1. Memakai bunga bruto untuk proyeksi. Pada deposito, seperlima bunganya tidak pernah sampai ke rekening. Proyeksi sepuluh tahun dari bunga bruto melebihkan saldo jutaan rupiah.
  2. Membagi bunga tahunan dengan 12 untuk compounding triwulanan. Bunga triwulanan dikreditkan empat kali, jadi tarif per periodenya r ÷ 4, dan tarif bulanan setaranya bukan r ÷ 12.
  3. Menganggap kupon SBN berbunga majemuk dengan sendirinya. Kupon dibayar tunai. Tanpa ditempatkan kembali, saldo SBN tetap sama dengan pokok.
  4. Mengurangkan inflasi dari bunga bruto. Yang dibandingkan dengan inflasi adalah imbal hasil setelah pajak, lalu dihitung dengan persamaan Fisher.
  5. Mengira setoran rutin membuat seluruh uang berbunga penuh. Setoran bulan terakhir hanya berbunga sebulan atau tidak sama sekali; hanya modal awal yang berbunga sepanjang jangka waktu.

Yang tidak dihitung kalkulator ini

Kalkulator ini menganggap bunga, tarif pajak, dan setoran tetap. Bunga deposito yang diperpanjang otomatis berganti mengikuti bunga bank pada tanggal perpanjangan, dan imbalan Sukuk Tabungan mengambang mengikuti BI-Rate; keduanya tidak diramalkan. Biaya produk seperti biaya administrasi rekening, biaya pembelian dan penjualan, atau penalti pencairan sebelum jatuh tempo tidak dikurangkan. Imbal hasil yang naik turun seperti reksa dana dan saham tidak dimodelkan sebagai rangkaian tahun baik dan buruk; angka yang kamu isi diperlakukan sebagai rata-rata yang tercapai setiap bulan.

Batas Rp7,5 juta diterapkan pada saldo yang dihitung kalkulator saja. Bila kamu punya tabungan lain di bank yang sama, jumlah keduanya yang dibandingkan, dan pemotongan bisa dimulai lebih awal. Untuk simulasi deposito per tenor dengan hitungan hari aktual, tabungan lain, dan pemeriksaan penjaminan LPS, pakai kalkulator deposito. Untuk menghitung setoran yang dibutuhkan agar mencapai jumlah tertentu, pakai kalkulator investasi berbasis target.

Sumber dan dasar hukum

Pertanyaan yang sering ditanya

Apa bedanya bunga majemuk, compound interest, dan compounding?
Bunga majemuk dan compound interest adalah konsep yang sama dalam dua bahasa: bunga dihitung dari saldo yang sudah memuat bunga periode sebelumnya. Compounding adalah prosesnya, yaitu penambahan bunga ke pokok setiap periode. Lawannya bunga tunggal, yang selalu dihitung dari pokok awal. Kalkulator di halaman ini menghitung bunga majemuk dan menampilkan selisihnya terhadap bunga tunggal.
Bagaimana cara menghitung bunga majemuk per bulan secara manual?
Bagi bunga tahunan dengan 12 untuk mendapat tarif per bulan, lalu kalikan saldo dengan tarif itu dan tambahkan hasilnya ke saldo. Ulangi setiap bulan. Untuk Rp10 juta pada 6%, bunga bulan pertama Rp50.000, saldo Rp10.050.000, bunga bulan kedua Rp50.250. Cara cepatnya: saldo akhir = modal × (1 + 0,005) pangkat jumlah bulan.
Kenapa hasil kalkulator compound interest ini berbeda dengan simulasi aplikasi lain?
Biasanya karena salah satu dari empat hal. Aplikasi lain sering mengabaikan pajak final, menganggap setoran masuk di awal periode, memakai frekuensi majemuk berbeda, atau menghitung bunga deposito dengan jumlah hari aktual. Samakan keempatnya lebih dulu. Tabel rincian per bulan di kalkulator ini memudahkan mencari bulan tempat kedua hasil mulai berbeda.
Inflasi mana yang dipakai untuk menghitung nilai riil tabungan?
Pilihan bawaannya rata-rata inflasi tahunan nasional dua belas bulan terakhir menurut BPS, 3,15% untuk September 2025 sampai Agustus 2026. Kamu bisa menggantinya dengan inflasi bulan terakhir, rata-rata seluruh seri sejak Januari 2024, target Bank Indonesia 2,5%, inflasi kota atau kabupaten tempat tinggalmu, atau angka sendiri.
Seberapa besar pengaruh setoran di awal bulan dibanding akhir bulan?
Setoran di awal bulan berbunga satu bulan lebih lama, jadi saldonya lebih besar sebesar kira-kira satu bulan bunga atas seluruh setoran. Pada Rp1 juta per bulan selama setahun di 12% tanpa pajak, setoran akhir bulan menghasilkan Rp12.682.503 dan setoran awal bulan Rp12.809.328. Selisihnya membesar seiring lama menabung dan tingginya bunga.
Apakah kalkulator compounding ini bisa dipakai untuk reksa dana atau saham?
Bisa sebagai gambaran, dengan mengisi imbal hasil rata-rata per tahun dan memilih tanpa pajak atau tarif lain. Hasilnya menganggap imbal hasil itu tercapai rata setiap bulan. Reksa dana dan saham naik turun, sehingga saldo sebenarnya bisa jauh di atas atau di bawah garis grafik. Biaya pembelian, penjualan, dan pengelolaan juga tidak dikurangkan.
Apakah saldo akhir dari kalkulator ini pasti saya terima?
Tidak pasti, karena bunga deposito berganti saat perpanjangan, imbalan sukuk tabungan mengikuti BI-Rate, dan inflasi masa depan tidak diketahui. Yang pasti adalah aritmetikanya: dengan bunga, pajak, dan setoran yang kamu isi, saldo akan tepat seperti tabel rincian. Ubah asumsinya ke skenario rendah dan tinggi untuk melihat rentang hasil yang masuk akal.

Ditinjau oleh Deepak Middha

Chartered Accountant dan pemegang Series 65, dengan 18 tahun di industri hedge fund pada akuntansi dana, administrasi investasi, dan pelaporan. Rumus bunga majemuk, konversi frekuensi, tarif PPh final, dan rujukan peraturan di halaman ini diperiksa terhadap teks PP 131/2000, PMK 212/PMK.03/2018, PP 91/2021, dan data BPS.

Profil peninjau → · Cara kami memeriksa angka →

Halaman terkait