Kalkulator ini menjawab berapa saldo tabungan atau investasimu setelah bunga ikut berbunga, berapa yang hilang untuk pajak final, dan berapa daya beli saldo itu dalam rupiah hari ini. Inflasi diambil dari seri resmi Badan Pusat Statistik, bukan angka yang kamu tebak, dan semua hitungan berjalan di browsermu tanpa login.
Poin utama
- Bunga majemuk dan compound interest adalah hal yang sama: bunga yang sudah dikreditkan ikut menghasilkan bunga pada periode berikutnya.
- Pada Rp10 juta dan 6% per tahun selama 5 tahun, compounding bulanan menghasilkan Rp488.502 lebih banyak daripada bunga tunggal.
- Pajak final dipotong setiap kali bunga dibayar, jadi yang berbunga adalah bunga bersih, bukan bunga bruto di brosur.
- Bunga deposito 3,75% setelah PPh 20% memberi 3,04% setahun, di bawah inflasi rata-rata 3,15%: saldonya naik, daya belinya turun.
- Frekuensi majemuk lebih kecil pengaruhnya daripada pajak dan lama menabung.
Cara memakai kalkulator compound interest ini
Isian di atas dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah uangnya: modal awal yang ditaruh sekali, setoran rutin, seberapa sering setoran dilakukan, dan apakah setoran masuk di awal atau di akhir periode. Kelompok kedua adalah pertumbuhannya: bunga atau imbal hasil per tahun, frekuensi majemuk, dan kenaikan setoran per tahun. Kelompok ketiga adalah pengurangnya: pajak atas bunga dan asumsi inflasi.
Hasilnya muncul begitu angka diubah. Kotak utama menampilkan saldo akhir, lalu empat kartu memisahkan total setoran, bunga bersih, imbal hasil bersih efektif per tahun, dan imbal hasil riil. Di bawahnya ada grafik saldo, rumus dengan angkamu sendiri, dan tabel rincian yang bisa diganti antara per tahun dan per bulan. Tabel per bulan berguna untuk mencocokkan hasil dengan mutasi rekening, karena setiap baris memperlihatkan bunga bruto, pajak, dan bunga bersih bulan itu.
Setoran di awal atau di akhir periode
Setoran di awal bulan langsung ikut berbunga pada bulan yang sama; setoran di akhir bulan baru berbunga bulan berikutnya. Pilih awal periode bila kamu menyisihkan uang segera setelah gajian dan menaruhnya di instrumen yang langsung berbunga. Pilih akhir periode bila setoran menunggu sampai sisa uang bulanan diketahui, atau bila produknya baru mulai berbunga setelah dana mengendap. Untuk setoran tahunan, awal periode berarti bulan pertama setiap tahun dan akhir periode berarti bulan kedua belas.
Kenaikan setoran per tahun
Kolom ini menaikkan setoran setiap dua belas bulan dengan persen yang sama. Setoran tahun kedua adalah setoran awal dikali (1 + kenaikan), tahun ketiga dikali (1 + kenaikan)², dan seterusnya. Fitur ini meniru kebiasaan menaikkan tabungan mengikuti kenaikan gaji. Karena setoran yang naik tidak lagi berupa anuitas tetap, kalkulator beralih dari rumus tertutup ke hitungan bulan demi bulan dan menyebutkannya di bagian rumus.
Cara menghitung bunga: bunga tunggal dan bunga majemuk
Ada dua cara menghitung bunga. Bunga tunggal selalu dihitung dari pokok awal, sehingga bunga tahun kesepuluh sama besar dengan bunga tahun pertama. Bunga majemuk dihitung dari saldo yang sudah memuat bunga sebelumnya. Istilah Inggrisnya compound interest, dan proses bunga ditambahkan ke pokok disebut compounding. Kalkulator ini memakai bunga majemuk karena begitulah saldo tumbuh bila bunga tidak ditarik.
Bunga majemuk tanpa setoran: FV = P × (1 + r/n)n×t
Dengan setoran rutin akhir bulan: FV = P × (1 + i)N + PMT × [(1 + i)N − 1] ÷ i
i = tarif bersih per bulan, N = jumlah bulan
P adalah modal awal, r bunga per tahun dalam bentuk desimal, n jumlah kali bunga dikreditkan setahun, t jumlah tahun, dan PMT setoran rutin. Bila setoran dilakukan di awal bulan, suku setoran dikali satu kali lagi dengan (1 + i). Tabel berikut memperlihatkan jarak antara kedua cara hitung pada modal yang sama.
| Tahun | Bunga tunggal | Majemuk tahunan | Majemuk bulanan | Selisih bulanan vs tunggal |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Rp10.600.000 | Rp10.600.000 | Rp10.616.778 | Rp16.778 |
| 3 | Rp11.800.000 | Rp11.910.160 | Rp11.966.805 | Rp166.805 |
| 5 | Rp13.000.000 | Rp13.382.256 | Rp13.488.502 | Rp488.502 |
| 10 | Rp16.000.000 | Rp17.908.477 | Rp18.193.967 | Rp2.193.967 |
| 20 | Rp22.000.000 | Rp32.071.355 | Rp33.102.045 | Rp11.102.045 |
| 30 | Rp28.000.000 | Rp57.434.912 | Rp60.225.752 | Rp32.225.752 |
Pada lima tahun pertama selisihnya kecil. Setelah dua puluh tahun, bunga majemuk bulanan hampir dua kali lipat bunga tunggal, karena bagian "bunga atas bunga" terus membesar. Itulah alasan lama menabung lebih menentukan daripada selisih setengah persen bunga di awal.
Mengubah frekuensi majemuk menjadi tarif bulanan
Kalkulator menghitung saldo bulan demi bulan. Bila bunga dikreditkan triwulanan atau tahunan, tarifnya diubah menjadi tarif bulanan yang setara: i = (1 + r/n)n/12 − 1. Dengan cara ini setoran bulanan bisa digabung dengan compounding tahunan tanpa membulatkan periode. Untuk compounding bulanan rumus ini sama persis dengan r ÷ 12. Untuk compounding harian, satu bulan dihitung sebagai seperdua belas tahun, bukan jumlah hari kalender bulan itu.
Contoh hitung compounding langkah demi langkah
Ketiga contoh dihitung dengan mesin yang sama dengan kalkulator di atas. Angka rupiah dibulatkan ke rupiah terdekat hanya saat ditulis.
Contoh 1 — modal sekali, tanpa pajak. Rp10.000.000 pada 6% per tahun, majemuk bulanan, selama 5 tahun.
- Tarif per bulan: 6% ÷ 12 = 0,5%. Jumlah periode: 5 × 12 = 60 bulan.
- Faktor pertumbuhan: (1 + 0,005)60 = 1,34885.
- Saldo akhir: Rp10.000.000 × 1,34885 = Rp13.488.502.
- Bunga yang terkumpul Rp3.488.502. Dengan bunga tunggal hasilnya Rp10.000.000 × 6% × 5 = Rp3.000.000, jadi Rp488.502 adalah bunga atas bunga.
- Saldo akhir tahun pertama Rp10.616.778, bukan Rp10.600.000, karena bunga bulanan sudah ikut berbunga di dalam tahun itu. Imbal hasil efektifnya 6,17% setahun.
Contoh 2 — setoran bulanan dengan PPh bunga deposito dan batas Rp7,5 juta. Modal Rp5.000.000, setoran Rp1.000.000 di akhir setiap bulan, bunga 4,25% per tahun majemuk bulanan, 10 tahun, pajak final 20%.
- Bulan 1: saldo Rp5.000.000 belum melebihi Rp7.500.000, jadi bunganya tidak dipotong. Bunga = Rp5.000.000 × 4,25% ÷ 12 = Rp17.708. Setelah setoran, saldo Rp6.017.708.
- Bulan 2: bunga Rp6.017.708 × 0,354167% = Rp21.313, saldo Rp7.039.021. Bulan 3 masih di bawah batas: bunga Rp24.930, saldo Rp8.063.951.
- Mulai bulan 4 saldo di atas batas. Tarif bersih menjadi 4,25% × (1 − 20%) ÷ 12 = 0,283333% per bulan.
- Setelah 120 bulan: total setoran Rp125.000.000, bunga bruto Rp30.888.463, pajak Rp6.164.902, saldo akhir Rp149.723.561.
- Tanpa pengecualian Rp7,5 juta saldo akhirnya Rp149.705.707. Pengecualian itu hanya bernilai Rp17.854 di sini, karena berlaku pada tiga bulan pertama saja.
- Dengan inflasi rata-rata 12 bulan BPS 3,15%, saldo itu setara Rp109.754.516 hari ini. Imbal hasil bersihnya 3,45% setahun, riilnya 0,29%.
Contoh 3 — setoran yang naik tiap tahun dengan tarif pajak SBN. Setoran Rp2.000.000 di awal bulan, naik 5% setiap tahun, 15 tahun, imbal hasil 6,90% per tahun (sama dengan imbalan tetap SR025T5), majemuk bulanan, PPh final 10%.
- Tarif bersih per bulan: 6,90% × (1 − 10%) ÷ 12 = 0,5175%.
- Setoran tahun pertama Rp2.000.000 per bulan; tahun ke-15 menjadi Rp2.000.000 × 1,0514 = Rp3.959.863 per bulan.
- Total setoran 15 tahun Rp517.885.526. Saldo akhir Rp809.597.417, terdiri dari bunga bersih Rp291.711.891 setelah pajak Rp32.412.432.
- Tanpa kenaikan setoran, total setoran hanya Rp360.000.000 dan saldo akhirnya Rp595.228.371.
- Nilai riil dengan inflasi 3,15%: Rp508.121.404. Imbal hasil riilnya 3,14% setahun.
SR025T5 bertenor 5 tahun dan imbalannya dibayar tunai setiap bulan. Contoh ini hanya meminjam tingkat imbalannya sebagai asumsi dan menganggap imbalan itu diinvestasikan kembali pada tingkat yang sama.
Diagram berikut membongkar satu putaran compounding dari contoh di grafik bagian inflasi: modal Rp10 juta, setoran Rp1 juta, bunga 6%, pajak final 10%.
Harian, bulanan, atau tahunan: pengaruh frekuensi compounding
Semakin sering bunga dikreditkan, semakin cepat bunga ikut berbunga. Bunga nominal 6% yang dikreditkan setahun sekali memberi 6% efektif; yang dikreditkan setiap bulan memberi 6,168%; yang dikreditkan setiap hari 6,183%. Selisihnya nyata tetapi kecil, dan tabel berikut memperlihatkan seberapa kecil dibanding pajak.
| Frekuensi | Efektif setahun | Saldo tanpa pajak | Efektif setelah PPh 20% | Saldo setelah PPh 20% |
|---|---|---|---|---|
| Tahunan (1× setahun) | 6% | Rp179.084.770 | 4,8% | Rp159.813.266 |
| Semesteran (2× setahun) | 6,09% | Rp180.611.123 | 4,858% | Rp160.693.804 |
| Triwulanan (4× setahun) | 6,136% | Rp181.401.841 | 4,887% | Rp161.146.360 |
| Bulanan (12× setahun) | 6,168% | Rp181.939.673 | 4,907% | Rp161.452.784 |
| Harian (365× setahun) | 6,183% | Rp182.202.895 | 4,917% | Rp161.602.340 |
Beralih dari majemuk bulanan ke harian menambah Rp263.222 pada Rp100 juta selama sepuluh tahun. PPh final 20% mengurangi saldo yang sama sekitar Rp20,5 juta. Bila kamu harus memilih antara produk dengan compounding harian dan produk dengan pajak lebih ringan pada bunga yang sama, pajaklah yang menentukan.
Ada satu hal lagi yang sering luput. Frekuensi majemuk hanya berarti bila bunga benar-benar ditambahkan ke saldo. Deposito dengan pilihan bunga ditransfer ke tabungan tidak berbunga majemuk di dalam deposito itu sendiri, dan kupon SBN ritel dibayar tunai ke rekening. Keduanya baru menjadi majemuk bila kamu sendiri menempatkan kembali bunganya.
Pajak atas bunga yang ikut dihitung
Pilihan pajak di kalkulator mengikuti instrumennya, bukan satu kotak persen kosong. Bunga deposito, tabungan, dan giro dikenai PPh final 20% dari jumlah bruto menurut PP 131/2000 Pasal 2 dan PMK 212/PMK.03/2018 Pasal 5 ayat (1) huruf c. Pemotongan tidak dilakukan bila jumlah deposito dan tabungan tidak melebihi Rp7.500.000 (PMK 212/PMK.03/2018 Pasal 7 huruf a), dan kalkulator menerapkan batas itu pada saldo setiap bulan. Bunga obligasi, termasuk kupon Surat Berharga Negara dan imbalan sukuk, dikenai PPh final 10% menurut PP 91/2021 Pasal 2.
Pajak dikenakan setiap kali bunga dikreditkan, jadi yang ikut berbunga adalah bunga bersih. Kalkulator menulis bunga bruto sebagai bunga bersih ÷ (1 − tarif), sehingga pajak di setiap baris tabel tepat sama dengan tarif dikali bunga bruto. Karena pajaknya final, bunga ini tidak digabung dengan penghasilan lain di SPT Tahunan dan pajak yang sudah dipotong tidak bisa dikreditkan. Penjelasan lengkap tentang batas Rp7,5 juta, pengembalian pajak bagi yang penghasilannya di bawah PTKP, dan tarif khusus deposito devisa hasil ekspor ada di halaman cara menghitung bunga deposito.
Nilai riil: menghubungkan compounding dengan inflasi BPS
Saldo Rp150 juta sepuluh tahun lagi tidak membeli sebanyak Rp150 juta hari ini. Kalkulator ini membagi setiap saldo dengan (1 + inflasi)tahun untuk mendapatkan nilai riil, yaitu daya beli saldo itu dinyatakan dalam rupiah hari ini. Inflasinya dibaca dari berkas seri inflasi tahunan nasional BPS yang juga dipakai halaman inflasi Indonesia, jadi angka di kalkulator ikut berganti setiap kali data BPS diperbarui.
Pilihan bawaannya rata-rata dua belas bulan terakhir. Angka satu bulan bisa terangkat oleh harga pangan atau penyesuaian tarif, sedangkan rata-rata setahun meredam lonjakan itu. Kamu juga bisa memilih inflasi bulan terakhir, rata-rata seluruh seri, titik tengah target Bank Indonesia, inflasi tahunan kota atau kabupatenmu dari 150 daerah yang diukur BPS, atau angka sendiri.
| Asumsi | Inflasi per tahun | Daya beli Rp100 juta setelah 10 tahun | Bunga deposito impas (PPh 20%) | Kupon SBN impas (PPh 10%) |
|---|---|---|---|---|
| Inflasi tahunan terbaru BPS (Agustus 2026) | 3,19% | Rp73.050.615 | 3,99% | 3,54% |
| Rata-rata 12 bulan terakhir (September 2025–Agustus 2026) | 3,15% | Rp73.304.773 | 3,94% | 3,5% |
| Rata-rata 32 bulan (Januari 2024–Agustus 2026) | 2,42% | Rp78.768.224 | 3,02% | 2,68% |
| Titik tengah target inflasi Bank Indonesia | 2,5% | Rp78.119.840 | 3,13% | 2,78% |
| Inflasi tahunan tertinggi dalam seri | 4,76% | Rp62.812.359 | 5,95% | 5,29% |
Kolom bunga impas di tabel itu menjawab pertanyaan yang lebih praktis daripada nilai riil: berapa bunga bruto minimum agar uangmu tidak menyusut setelah pajak. Rumusnya inflasi ÷ (1 − tarif pajak). Pada inflasi 3,15%, deposito perlu berbunga 3,94% sebelum pajak hanya untuk bertahan, di atas tingkat bunga penjaminan LPS bank umum 3,75%.
Imbal hasil riil dihitung dengan persamaan Fisher, bukan dengan mengurangkan inflasi begitu saja: riil = (1 + imbal hasil bersih) ÷ (1 + inflasi) − 1. Pada imbal hasil bersih 5% dan inflasi 3%, hasilnya 1,94%, bukan 2%. Selisihnya kecil untuk angka rendah dan membesar ketika inflasi tinggi.
Aturan 72 untuk memeriksa hasil compounding
Sebelum mempercayai angka dari kalkulator mana pun, periksa dengan aturan 72: bagi 72 dengan imbal hasil efektif tahunan untuk mendapat perkiraan jumlah tahun sampai uang berlipat dua. Pada 6% hasilnya 12 tahun, dan saldo Rp100 juta pada tabel frekuensi memang mendekati Rp200 juta menjelang tahun kedua belas. Bila kalkulator lain menunjukkan uang berlipat dua dalam enam tahun pada bunga yang sama, ada yang salah di sana.
| Imbal hasil efektif | Aturan 72 | Tepat: ln 2 ÷ ln(1 + r) | Selisih |
|---|---|---|---|
| 2,5% | 28,8 tahun | 28,07 tahun | 0,73 tahun |
| 3,75% | 19,2 tahun | 18,83 tahun | 0,37 tahun |
| 4,5% | 16 tahun | 15,75 tahun | 0,25 tahun |
| 6% | 12 tahun | 11,9 tahun | 0,1 tahun |
| 7% | 10,3 tahun | 10,24 tahun | 0,04 tahun |
| 10% | 7,2 tahun | 7,27 tahun | -0,07 tahun |
| 12% | 6 tahun | 6,12 tahun | -0,12 tahun |
Pakai imbal hasil bersih, bukan bunga di brosur. Deposito 3,75% setelah pajak 20% memberi sekitar 3% efektif, sehingga aturan 72 menunjuk 24 tahun, bukan 19 tahun. Kalkulator di atas menampilkan kedua angka itu, perkiraan aturan 72 dan hitungan tepatnya, di bawah kartu hasil.
Kesalahan yang paling sering saat menghitung bunga majemuk
- Memakai bunga bruto untuk proyeksi. Pada deposito, seperlima bunganya tidak pernah sampai ke rekening. Proyeksi sepuluh tahun dari bunga bruto melebihkan saldo jutaan rupiah.
- Membagi bunga tahunan dengan 12 untuk compounding triwulanan. Bunga triwulanan dikreditkan empat kali, jadi tarif per periodenya r ÷ 4, dan tarif bulanan setaranya bukan r ÷ 12.
- Menganggap kupon SBN berbunga majemuk dengan sendirinya. Kupon dibayar tunai. Tanpa ditempatkan kembali, saldo SBN tetap sama dengan pokok.
- Mengurangkan inflasi dari bunga bruto. Yang dibandingkan dengan inflasi adalah imbal hasil setelah pajak, lalu dihitung dengan persamaan Fisher.
- Mengira setoran rutin membuat seluruh uang berbunga penuh. Setoran bulan terakhir hanya berbunga sebulan atau tidak sama sekali; hanya modal awal yang berbunga sepanjang jangka waktu.
Yang tidak dihitung kalkulator ini
Kalkulator ini menganggap bunga, tarif pajak, dan setoran tetap. Bunga deposito yang diperpanjang otomatis berganti mengikuti bunga bank pada tanggal perpanjangan, dan imbalan Sukuk Tabungan mengambang mengikuti BI-Rate; keduanya tidak diramalkan. Biaya produk seperti biaya administrasi rekening, biaya pembelian dan penjualan, atau penalti pencairan sebelum jatuh tempo tidak dikurangkan. Imbal hasil yang naik turun seperti reksa dana dan saham tidak dimodelkan sebagai rangkaian tahun baik dan buruk; angka yang kamu isi diperlakukan sebagai rata-rata yang tercapai setiap bulan.
Batas Rp7,5 juta diterapkan pada saldo yang dihitung kalkulator saja. Bila kamu punya tabungan lain di bank yang sama, jumlah keduanya yang dibandingkan, dan pemotongan bisa dimulai lebih awal. Untuk simulasi deposito per tenor dengan hitungan hari aktual, tabungan lain, dan pemeriksaan penjaminan LPS, pakai kalkulator deposito. Untuk menghitung setoran yang dibutuhkan agar mencapai jumlah tertentu, pakai kalkulator investasi berbasis target.
Sumber dan dasar hukum
- PP 131/2000 tentang Pajak Penghasilan atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia, sebagaimana diubah PP 123/2015 — Pasal 1 (bersifat final), Pasal 2 huruf a (20% dari jumlah bruto), Pasal 3 ayat (1) huruf a dan Penjelasan Umum (Rp7.500.000, bukan jumlah yang dipecah-pecah). pajak.go.id; status berlaku di JDIH Kemenkeu. Diperiksa 14 September 2026.
- PMK 212/PMK.03/2018 tentang Pemotongan Pajak Penghasilan atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto SBI — Pasal 2 ayat (3)–(4), Pasal 4, Pasal 5 ayat (1) huruf c, Pasal 7 huruf a. JDIH Kemenkeu, berstatus berlaku. Diperiksa 14 September 2026.
- PP 91/2021 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap — Pasal 1 angka 1 dan 2, Pasal 2 ayat (1)–(3), berlaku 30 Agustus 2021. JDIH Kemenkeu (PDF). Diperiksa 14 September 2026.
- Badan Pusat Statistik — inflasi tahunan (y-o-y) nasional dan 150 kabupaten/kota, IHK 2022=100, lewat WebAPI BPS, data sampai Agustus 2026, diambil 8 September 2026. inflasi-kota.csv.
- Bank Indonesia — target inflasi 2026 sebesar 2,5 ± 1% di bi.go.id. Diperiksa 14 September 2026.
- DJPPR Kemenkeu — imbalan tetap SR025T5 6,90% per tahun, dari halaman rencana penjualan SR025T3 dan SR025T5. Diperiksa 14 September 2026.
- Data yang dipakai kalkulator: pajak-bunga.csv, bi-rate.csv — lisensi CC BY 4.0. Cara kami memeriksa angka: Metodologi.
Pertanyaan yang sering ditanya
Apa bedanya bunga majemuk, compound interest, dan compounding?
Bagaimana cara menghitung bunga majemuk per bulan secara manual?
Kenapa hasil kalkulator compound interest ini berbeda dengan simulasi aplikasi lain?
Inflasi mana yang dipakai untuk menghitung nilai riil tabungan?
Seberapa besar pengaruh setoran di awal bulan dibanding akhir bulan?
Apakah kalkulator compounding ini bisa dipakai untuk reksa dana atau saham?
Apakah saldo akhir dari kalkulator ini pasti saya terima?
Ditinjau oleh Deepak Middha
Chartered Accountant dan pemegang Series 65, dengan 18 tahun di industri hedge fund pada akuntansi dana, administrasi investasi, dan pelaporan. Rumus bunga majemuk, konversi frekuensi, tarif PPh final, dan rujukan peraturan di halaman ini diperiksa terhadap teks PP 131/2000, PMK 212/PMK.03/2018, PP 91/2021, dan data BPS.