Apa itu mitung dina?
Mitung dina adalah peringatan hari ke-7, dari kata Jawa pitu yang berarti tujuh. Ia datang sesudah nelung dina dan sebelum matang puluh.
Cara menghitung tanggal 7 hari
Konvensi yang dipakai: hari wafat = hari ke-1. Maka hari ke-7 = tanggal wafat ditambah 6 hari kalender, bukan 7.
Harinya bukan hari yang sama dengan hari wafat
Ini yang paling sering dikira keliru. “Tujuh hari” terdengar seperti “minggu depan, hari yang sama” — dan memang akan begitu kalau jaraknya tujuh hari. Tetapi jaraknya enam, jadi nama harinya mundur satu langkah. Sementara itu pasarannya justru maju satu langkah, karena siklus pasaran panjangnya lima hari, bukan tujuh.
| Hari wafat | Mitung dina (+6) | Hari | Pasaran |
|---|---|---|---|
| 10 Mar 2025 — Senin Legi | 16 Mar 2025 | Minggu (mundur satu) | Pahing (maju satu) |
| 17 Agu 2024 — Sabtu Legi | 23 Agu 2024 | Jumat (mundur satu) | Pahing (maju satu) |
| 1 Jan 2026 — Kamis Pon | 7 Jan 2026 | Rabu (mundur satu) | Wage (maju satu) |
| 29 Des 2025 — Senin Kliwon | 4 Jan 2026 | Minggu (mundur satu) | Legi (maju satu) |
Polanya selalu begitu, bukan kebetulan: enam hari kurang satu dari siklus tujuh harian, dan lebih satu dari siklus lima pasaran. Jadi kalau seseorang mengingat mitung dina sebagai “hari yang sama minggu depan”, tanggalnya meleset sehari ke belakang.
Mitung dina dalam rangkaian selamatan
Mitung dina berada sesudah nelung dina (3 hari) dan sebelum matang puluh (40 hari). Urutan lengkapnya ada di panduan selamatan.