Halaman ini menjawab dua pertanyaan yang selalu datang bersamaan saat harga saham turun: berapa rata-rata harga saya kalau membeli lagi, dan berapa lot yang harus dibeli supaya rata-ratanya turun ke angka tertentu. Keduanya dihitung bersama harga impas setelah biaya, karena rata-rata yang lebih rendah belum tentu berarti posisi yang lebih cepat pulih.
Poin utama
- Rata-rata baru selalu berada di antara rata-rata lama dan harga beli berikutnya — tidak pernah bisa menyentuh harga beli berikutnya.
- Lot tambahan untuk rata-rata target = lot lama × (rata lama − target) ÷ (target − harga baru).
- Menurunkan rata-rata dari Rp820 ke Rp760 dengan membeli di Rp700 membutuhkan lot sebanyak posisi awal — modal berlipat dua.
- Harga impas setelah average down tetap di atas rata-rata karena biaya beli kedua dan biaya jual ikut dihitung.
Rumus average down saham
Average down adalah membeli lagi saham yang sudah dimiliki pada harga di bawah rata-rata harga beli sebelumnya, sehingga rata-rata seluruh posisi turun. Kata "rata-rata" di sini adalah rata-rata tertimbang: setiap harga diberi bobot sebanyak lembar yang dibeli pada harga itu. Rata-rata sederhana dari dua harga — misalnya (Rp4.500 + Rp3.900) ÷ 2 — hanya benar kalau kedua pembelian sama besar lotnya.
Rata-rata termasuk biaya = modal ÷ total lembar
Harga impas = modal ÷ (total lembar × (1 − tarif jual efektif))
Aplikasi broker umumnya menampilkan rata-rata harga tanpa biaya, supaya angkanya bisa langsung dibandingkan dengan harga pasar. Kalkulator ini menampilkan ketiganya: rata-rata harga, rata-rata yang sudah memuat biaya beli, dan harga impas yang sudah memuat biaya jual serta PPh final 0,1%. Perbedaan antara rata-rata dan harga impas itulah jarak yang sebenarnya harus ditempuh harga sebelum posisi berhenti merugi.
Biaya beli dihitung terpisah untuk setiap pembelian, bukan sekali untuk total nilainya. Bagi broker yang mengenakan komisi minimum per transaksi, memecah satu pembelian menjadi beberapa pembelian kecil menambah biaya; bagi broker tanpa komisi minimum, hasilnya sama. Semua broker yang tarifnya kami baca saat ini tidak mencantumkan komisi minimum di halamannya, tetapi mesin hitungnya sudah mendukung bila ada.
Menghitung berapa lot untuk mencapai rata-rata target
Pertanyaan yang lebih sering diajukan bukan "berapa rata-rata saya", melainkan "harus beli berapa lot supaya rata-rata saya jadi sekian". Jawabannya diturunkan langsung dari rumus rata-rata tertimbang. Kalau posisi sekarang L lot dengan rata-rata R, harga beli berikutnya H, dan rata-rata yang diinginkan T:
x = L × (R − T) ÷ (T − H)
Rumus itu hanya punya jawaban bila T berada di antara H dan R. Target di bawah harga beli berikutnya mustahil, karena rata-rata tidak pernah bisa lebih rendah dari harga termurah yang dibeli. Target di atas rata-rata sekarang bukan average down. Kalkulator menolak kedua keadaan itu dan menjelaskan alasannya, bukan menampilkan angka negatif.
Hasil x hampir tidak pernah bilangan bulat, dan saham diperdagangkan per lot penuh. Kalkulator membulatkan x ke atas, sehingga rata-rata yang tercapai sedikit di bawah target. Pembulatan ke bawah akan meninggalkan rata-rata sedikit di atas target — dan itu berarti tujuanmu belum tercapai.
Penyebut rumus, T − H, adalah alasan average down cepat menjadi mahal. Semakin dekat target dengan harga beli berikutnya, semakin kecil penyebutnya, dan semakin besar lot yang dibutuhkan. Menurunkan rata-rata "hampir" ke harga pasar memerlukan lot yang jumlahnya tak terbatas.
Contoh hitung average saham
Contoh 1 — dua pembelian sama besar. 30 lot di Rp2.450, lalu 30 lot lagi di Rp2.050, lewat Ajaib (tarif 0,1513% beli dan 0,2513% jual, sudah memuat levy dan PPh).
- Pembelian 1: 3.000 lembar × Rp2.450 = Rp7.350.000; biaya 0,1513% = Rp11.120,55.
- Pembelian 2: 3.000 lembar × Rp2.050 = Rp6.150.000; biaya 0,1513% = Rp9.304,95.
- Rata-rata harga: Rp13.500.000 ÷ 6.000 lembar = Rp2.250. Karena lotnya sama, hasilnya sama dengan rata-rata sederhana kedua harga.
- Modal: Rp13.500.000 + Rp20.425,50 = Rp13.520.425,50, atau Rp2.253,40 per lembar.
- Harga impas tepat: Rp13.520.425,50 ÷ (6.000 × (1 − 0,2513%)) = Rp2.259,08; fraksi di harga itu Rp10, jadi Rp2.260.
- Dari harga beli kedua, harga perlu naik 10,24% — di dalam batas atas satu sesi Rp2.560 dari acuan Rp2.050.
Contoh 2 — mencari lot untuk rata-rata target. Posisi 50 lot di Rp820. Harga sekarang Rp700, dan kamu ingin rata-rata Rp760.
- Lot tambahan: 50 × (820 − 760) ÷ (760 − 700) = 50 × 60 ÷ 60 = 50 lot. Hasilnya bulat, jadi tidak ada pembulatan.
- Rata-rata baru: (5.000 × 820 + 5.000 × 700) ÷ 10.000 = Rp760, tepat di target.
- Dana tambahan dengan tarif Ajaib: Rp3.500.000 + Rp5.295,50 biaya = Rp3.505.295,50. Modal total menjadi Rp7.611.498,80.
- Harga impas sebelum average down Rp825; sesudahnya Rp765. Jarak impas dari harga pasar turun dari 17,86% menjadi 9,29%, dengan modal hampir dua kali lipat.
Contoh 3 — tiga pembelian bertingkat. 10 lot di Rp6.000, 20 lot di Rp5.200, dan 40 lot di Rp4.500, lewat Mandiri Sekuritas (beli 0,18%, jual 0,28%; levy dan PPh ditambahkan karena broker tidak menyatakannya).
- Nilai: Rp6.000.000 + Rp10.400.000 + Rp18.000.000 = Rp34.400.000 untuk 7.000 lembar.
- Rata-rata harga: Rp34.400.000 ÷ 7.000 = Rp4.914,29 — jauh lebih dekat ke Rp4.500 daripada rata-rata sederhana ketiga harga (Rp5.233), karena lot terbesar ada di harga terendah.
- Biaya beli: (0,18% + 0,0433%) × Rp34.400.000 = Rp76.815,20; modal Rp34.476.815,20.
- Tarif jual efektif 0,4233%. Harga impas tepat Rp4.946,20; fraksi Rp10; harga yang bisa diajukan Rp4.950, naik 10% dari pembelian terakhir.
Tabel skenario average down
Tabel ini menjawab pertanyaan "bagaimana kalau aku beli lebih banyak atau di harga lebih rendah" untuk satu posisi awal yang sama, dengan tarif Ajaib. Kolom terakhir adalah seberapa jauh harga harus naik dari harga beli kedua supaya posisi tidak rugi.
| Beli tambahan | Total lot | Rata-rata harga | Rata-rata + biaya | Modal total | Harga impas | Jarak impas dari harga beli kedua |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 5 lot @ Rp900 | 15 | Rp966,67 | Rp968,13 | Rp1.452.194 | Rp975 | +8,33% |
| 10 lot @ Rp900 | 20 | Rp950 | Rp951,44 | Rp1.902.875 | Rp955 | +6,11% |
| 20 lot @ Rp900 | 30 | Rp933,33 | Rp934,75 | Rp2.804.236 | Rp940 | +4,44% |
| 10 lot @ Rp800 | 20 | Rp900 | Rp901,36 | Rp1.802.723 | Rp905 | +13,13% |
| 20 lot @ Rp800 | 30 | Rp866,67 | Rp867,98 | Rp2.603.934 | Rp875 | +9,38% |
| 40 lot @ Rp800 | 50 | Rp840 | Rp841,27 | Rp4.206.355 | Rp845 | +5,63% |
| 30 lot @ Rp700 | 40 | Rp775 | Rp776,17 | Rp3.104.690 | Rp780 | +11,43% |
Perhatikan dua baris yang membeli 20 lot: di Rp900 rata-ratanya Rp933,33, di Rp800 rata-ratanya Rp866,67. Harga beli kedua yang lebih rendah menurunkan rata-rata lebih banyak dengan modal yang lebih kecil. Sebaliknya, pada harga yang sama, melipatgandakan lot hanya menambah penurunan rata-rata sedikit demi sedikit.
Kenapa penurunan rata-rata makin lama makin kecil
Setiap lot tambahan menarik rata-rata ke arah harga beli kedua, tetapi tarikannya dibagi dengan jumlah lembar yang sudah ada. Lot tambahan pertama bekerja pada posisi 10 lot; lot ke-50 bekerja pada posisi 59 lot. Karena itu kurva turun curam lalu melandai. Titik ketika kurva mulai datar adalah titik ketika menambah modal hampir tidak lagi mengubah rata-rata — dan grafik hidup di kalkulator menandai pilihanmu sendiri pada kurva yang sama.
Urutan pemeriksaan sebelum menambah lot
Urutan ini disusun dari hal yang bisa dihitung, bukan dari penilaian atas prospek sahamnya. Kalkulator menangani langkah ketiga sampai keenam. Langkah pertama dan kedua bergantung pada keadaan pasar hari itu: harga beli kedua harus berupa kelipatan fraksi, dan tidak boleh di bawah batas bawah auto reject dari harga penutupan kemarin.
Average up dan piramida terbalik
Rumus yang sama berlaku ketika harga naik. Membeli lagi di atas rata-rata disebut average up: rata-rata naik, dan harga impas ikut naik. Kalkulator ini menerima pembelian di harga berapa pun, jadi urutan harga tidak harus menurun. Pencari lot target hanya bekerja untuk arah turun, karena di arah naik pertanyaannya terbalik — berapa lot yang boleh ditambah sebelum rata-rata melewati batas yang kamu tetapkan — dan itu bisa dijawab dengan mencoba beberapa jumlah lot pada baris terakhir.
Pola lot yang membesar saat harga turun, seperti Contoh 3, sering disebut piramida. Kebalikannya, lot yang mengecil saat harga naik, membuat rata-rata tetap dekat dengan pembelian pertama. Keduanya hanya soal bobot dalam rata-rata tertimbang; kalkulator memperlakukannya sama.
Batas yang membatasi average down
Ada tiga batas yang tidak bisa diatasi dengan menambah lot. Pertama, batas bawah auto reject: dari harga penutupan kemarin, harga hari ini tidak bisa turun lebih dari 15% di Papan Utama, Pengembangan, dan Ekonomi Baru, jadi harga beli berikutnya dalam satu hari punya lantai. Kedua, harga minimum Rp50 di papan reguler. Ketiga, fraksi harga: order di antara fraksi ditolak.
| Rentang harga | Fraksi | Jenjang maksimum per order | Dasar |
|---|---|---|---|
| di bawah Rp200 | Rp1 | Rp10 | II-A VI.5.2.1 |
| Rp200 s.d. di bawah Rp500 | Rp2 | Rp20 | II-A VI.5.2.2 |
| Rp500 s.d. di bawah Rp2.000 | Rp5 | Rp50 | II-A VI.5.2.3 |
| Rp2.000 s.d. di bawah Rp5.000 | Rp10 | Rp100 | II-A VI.5.2.4 |
| Rp5.000 ke atas | Rp25 | Rp250 | II-A VI.5.2.5 |
Kotak di bawah hasil kalkulator menghitung apakah harga impas bisa dicapai dari harga beli terakhir dalam satu sesi. Untuk semua contoh di halaman ini jawabannya ya, karena jarak impas di bawah batas atas 25%. Pada saham yang harganya sudah jatuh jauh dan membutuhkan kenaikan puluhan persen untuk impas, hitungan jumlah sesi menunjukkan bahwa pemulihan butuh beberapa hari berturut-turut di batas atas. Rincian aturannya ada di halaman ARA dan ARB, dan perbandingan tarif broker lengkap ada di kalkulator saham.
Kalkulator ini juga tidak menilai apakah menambah posisi itu keputusan yang baik; ia hanya membuat biayanya terlihat. Semua perhitungan berjalan di browsermu, tanpa login, dan tidak ada harga maupun jumlah lot yang dikirim ke server kami.
Sumber dan dasar hukum
- Peraturan BEI II-A, Keputusan Direksi Kep-00003/BEI/04-2025 (8 April 2025) — satuan lot 100 lembar (VI.4.2), fraksi harga (VI.5.2), batas auto rejection dengan ARB 15% (angka 2 keputusan; VI.7.1.2), harga minimum Rp50 (VI.6.1). idx.co.id (PDF). Diperiksa 14 September 2026.
- PP 14/1997 tentang Perubahan atas PP 41/1994 — PPh final 0,1% dari nilai bruto penjualan saham di bursa. JDIH BPS. Diperiksa 14 September 2026.
- Levy bursa 0,0433% — Peraturan BEI II-A XI.1.1 (0,018%), Peraturan KPEI II-5 (0,009% dan dana jaminan 0,01%), Peraturan KSEI VI-A (0,003%), PPN menurut PMK 131/2024. Rinciannya di kalkulator saham.
- Tarif broker — dibaca dari situs masing-masing broker pada 14 September 2026: brokers.csv (CC BY 4.0). Metodologi: cara kami memeriksa angka.
Pertanyaan yang sering ditanya
Bagaimana cara menghitung average saham dari beberapa pembelian?
Berapa lot yang harus dibeli agar average turun ke harga tertentu?
Apakah average down membuat saya lebih cepat balik modal?
Kenapa rata-rata di aplikasi broker berbeda dengan kalkulator ini?
Apakah biaya beli average down dihitung per transaksi?
Bisakah kalkulator ini dipakai untuk average up?
Ditinjau oleh Deepak Middha
Chartered Accountant dan pemegang Series 65, dengan 18 tahun di industri hedge fund pada akuntansi dana, administrasi investasi, dan pelaporan. Rumus rata-rata tertimbang, harga impas, dan aturan fraksi di halaman ini diperiksa terhadap teks peraturan BEI dan PP 14/1997.